NATOLA – Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat akan datang?” Namun Rasulullah ﷺ justru balik bertanya, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?”
Lelaki itu menjawab dengan rendah hati, “Aku tidak menyiapkan banyak puasa, tidak pula banyak sedekah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
“Engkau akan bersama yang kau cintai.”
Sebuah jawaban sederhana, namun mengguncang hati. Karena cinta bukan sekadar rasa — ia adalah arah hidup, kekuatan, dan jalan menuju kebersamaan abadi. Siapa yang kita cintai, akan menentukan kemana hati ini tertuju, ke mana kaki ini melangkah, dan dengan siapa kita akan dikumpulkan kelak.
Cinta adalah energi yang dahsyat. Ia mampu membuat seseorang menempuh jarak jauh, menahan sakit, bahkan berkorban tanpa pamrih. Namun, nilainya sangat bergantung pada siapa yang dicintai. Jika cinta tertuju kepada dunia, ia fana. Hari ini berbunga, esok bisa layu dan mengering. Hari ini terlihat indah, esok bisa menjadi luka.
Berapa banyak orang yang mencintai manusia lalu dikecewakan? Yang rela berkorban demi pujian, lalu dilupakan? Cinta duniawi memang sering berubah, karena ia berakar dari sesuatu yang tak kekal.
Namun berbeda halnya dengan cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta ini tidak tumbuh dari syahwat atau kepentingan. Ia tumbuh dari iman, dirawat dengan amal shalih, dan berbuah ridha Allah.
Mereka yang mencintai Allah akan patuh pada-Nya. Ia tak sekadar mengaku cinta, tapi memperlihatkannya melalui ketaatan. Sebab sebagaimana kata Rabi’ah Al-‘Adawiyah:
“Jika cintamu tulus, pasti engkau akan menaati-Nya. Karena pecinta sejati pasti tunduk kepada yang dicintainya.”
Cinta kepada Allah bukan hanya doa yang diucapkan, tapi keputusan yang dihidupi. Ia menjelma dalam kesabaran di jalan-Nya, dalam air mata yang jatuh di sepertiga malam, dan dalam tekad menjauhi larangan meski berat.
Dan cinta seperti inilah — yang akan menyatukan kita dengan yang kita cintai. Bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Sahabat Anas bin Malik bahkan berkata, “Kami tidak pernah berbahagia — setelah Islam — melebihi kebahagiaan kami atas sabda Nabi ﷺ: ‘Engkau akan bersama yang kau cintai.’ Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka, walau amalku belum seperti mereka.”
Subhanallah…
Pertanyaannya kini:
Sudahkah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya? Ataukah cinta kita masih terlalu sibuk dengan dunia yang sementara ini?
Karena kelak, kita tidak akan bersama yang paling kita kagumi, atau yang paling kita tiru gayanya…
Tapi kita akan bersama yang paling kita cintai.
Ref: Hidayatullah.com

