Belajar dari Kekalahan: Kisah Balat al-Syuhada
Sejarah tidak hanya mencatat kemenangan. Ia juga menyimpan pelajaran penting dari kekalahan. Dengan memahami penyebab kekalahan, kita dapat menghindari kesalahan serupa di masa mendatang. Itulah salah satu tujuan utama kita mempelajari sejarah.
Pada awal Ramadan tahun 114 H (732 M), pecah sebuah pertempuran besar di antara kota Tours dan Poitiers, Prancis. Kaum Muslim menyebutnya Balat al-Syuhada—”dataran para syuhada”. Sejarawan Barat mengenalnya sebagai Pertempuran Tours atau Pertempuran Poitiers. Paul K. Davis memasukkan peristiwa ini ke dalam bukunya 100 Decisive Battles, sementara Edward Creasy menyebutnya dalam Fifteen Decisive Battles of the World.
Mengapa Pertempuran Ini Dinilai Menentukan?
Paul K. Davis menyebut sebuah pertempuran sebagai “menentukan” bila memenuhi salah satu dari tiga kriteria:
-
Menciptakan perubahan sosial atau politik yang besar.
-
Jika hasilnya terbalik, perubahan besar tetap akan terjadi.
-
Mengawali perubahan penting dalam strategi perang.
Pertempuran di antara Tours dan Poitiers termasuk dalam kategori kedua. Bila hasilnya berbeda, perjalanan sejarah Eropa bisa berubah total.
Pasukan Muslim di Ambang Kemenangan
Kaum Muslim yang dipimpin Abdul Rahman al-Ghafiqi maju dari Andalusia (Spanyol Islam) menuju Prancis, menghadapi pasukan Frank yang dipimpin Charles Martel. Abdul Rahman memimpin pasukan dengan adil dan bijak. Ia mendahulukan prajuritnya dalam pembagian harta rampasan perang dan dikenal sebagai pemimpin saleh serta sahabat dari Ibn Umar.
Enan menggambarkan al-Ghafiqi sebagai sosok reformis yang sabar, religius, dan tegas. Ia mengganti para pejabat korup dengan pemimpin yang amanah dan memperlakukan umat Islam dan Kristen secara adil. Ia juga membangun kembali gereja yang dirusak secara zalim, dan membongkar gereja yang dibangun lewat suap.
Setelah mengatasi pemberontakan gubernur Utsman ibn Abi Nis’ah di selatan Prancis, al-Ghafiqi terus memimpin ekspansi ke utara. Dalam waktu singkat, ia menaklukkan Acquitaine, Bordeaux, dan sebagian besar wilayah Prancis tengah. Bahkan, pasukannya sempat mencapai Sens—sekitar 160 km dari Paris.
Charles Martel Menyatukan Kekuatan
Saat itu, Kerajaan Frank tengah memasuki masa transisi kekuasaan dari Dinasti Merovingian ke Carolingian. Walaupun secara formal kerajaan dipimpin raja, kekuasaan sesungguhnya berada di tangan Charles Martel. Melihat ancaman pasukan Islam, Charles menghimpun kekuatan dan bahkan menyambut Eudo—saingan politiknya—yang meminta bantuan dengan syarat akan setia kepadanya.
Kedua kekuatan akhirnya berhadapan di antara Poitiers dan Tours. Pasukan Muslim diperkirakan berjumlah antara 20.000 hingga 80.000. Mereka telah membawa banyak harta pampasan dari penaklukan sebelumnya, dan ini menimbulkan persoalan baru: godaan duniawi.
Harta yang Membelah Konsentrasi
Abdul Rahman khawatir, harta rampasan justru akan melemahkan fokus tempur pasukannya. Ia mencoba menyarankan agar mereka meninggalkan sebagian harta, tetapi tidak berani memaksa di tengah kondisi yang sensitif.
Kedua pihak saling mengintai selama seminggu. Pertempuran besar akhirnya pecah pada pertengahan Oktober 732 M. Dalam pertempuran besar yang berlangsung berhari-hari, pasukan Muslim sempat mendesak pasukan Frank. Namun, saat mendengar kabar bahwa harta mereka diserang dari belakang, banyak pasukan Muslim yang mundur dari medan tempur untuk mempertahankannya.
Kekacauan pun terjadi. Al-Ghafiqi berusaha memulihkan barisan, namun ia terkena panah dan gugur di medan tempur. Kematian pemimpin ini memicu ketidakstabilan dan memaksa pasukan Muslim untuk mundur secara diam-diam malam itu, meninggalkan seluruh harta rampasan mereka.
Akibat Kekalahan dan Pelajaran Penting
Charles Martel memilih tidak mengejar pasukan Muslim. Ia cukup puas dengan hasil yang ada dan membawa pulang seluruh harta yang ditinggalkan musuh. Sejak saat itu, sejarawan menyebut wilayah pertempuran ini sebagai Balat al-Syuhada, Dataran Syuhada.
Sejarawan Barat banyak berspekulasi. Edward Gibbon, misalnya, membayangkan jika umat Islam menang dalam pertempuran ini, maka Eropa bisa jadi berubah wajah—dari Kristen menjadi Islam. Ia berandai-andai bahwa Oxford akan mengajarkan tafsir Al-Qur’an, dan masjid akan berdiri di tempat gereja saat ini.
Namun, sejarah berjalan sesuai ketentuan Allah. Kita tidak bisa mengubahnya. Tapi kita bisa mengambil pelajaran. Kekalahan tidak selalu datang dari kekuatan musuh. Terkadang, bahkan seringkali, kekalahan lahir dari kelemahan kita sendiri dalam mengendalikan hawa nafsu—terutama nafsu terhadap dunia dan harta.
Penutup
Balat al-Syuhada mengingatkan kita bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh strategi dan kekuatan, tetapi juga oleh keteguhan hati dan kesungguhan menjaga tujuan utama jihad. Ketika pasukan Muslim lebih sibuk menjaga harta daripada menyempurnakan perjuangan, maka kekalahan menjadi harga yang harus dibayar.
