Ketika Unta Menjadi Jalan Dakwah: Kontribusi Muslim Afghan di Negeri Kanguru

Kontribusi yang Terlupakan: Jejak Muslim Penunggang Unta di Australia

Banyak orang belum menyadari bahwa para penunggang unta dari Afghanistan dan sekitarnya pernah memainkan peran besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Australia dan menyebarkan Islam di benua tersebut. Mereka memang bukan Muslim pertama yang menginjakkan kaki di Australia. Jauh sebelum itu, pelaut-pelaut Bugis sudah datang untuk mencari tripang, bahkan sebelum orang-orang kulit putih tiba. Sejumlah kecil tawanan Muslim dari wilayah jajahan Inggris juga pernah mendarat di Australia sebagai buangan. Namun, para penunggang unta dari Afghan yang datang pada pertengahan abad ke-19 memulai gelombang imigrasi Muslim pertama yang menetap secara permanen di negeri ini.


Ketangguhan Unta Menaklukkan Pedalaman Australia

Bentang alam Australia yang didominasi gurun menghambat pembangunan jalur darat antar kota. Pemerintah Australia yang baru lepas dari kolonialisme Inggris kesulitan membuka akses ke pedalaman. Berulang kali mereka mengirim ekspedisi, tetapi ekspedisi-ekspedisi itu selalu gagal karena medan gurun yang keras tak mampu ditaklukkan oleh kuda. Unta menjadi satu-satunya hewan yang bisa bertahan dalam kondisi ekstrem semacam itu. Namun, karena Australia belum memiliki unta, pemerintah kolonial mendatangkan unta dari Afghanistan dan India pada tahun 1840 untuk mendukung eksplorasi pedalaman.


Datangnya Para Penunggang Unta dan Lahirnya Komunitas Muslim

Setelah menyadari pentingnya peran unta, pemerintah Australia kembali mengimpor unta dalam jumlah besar pada dekade 1860-an. Kali ini, mereka juga membawa serta para penunggangnya dari Asia Selatan. Sejak saat itu, bisnis pengadaan unta berkembang pesat. Para penunggang unta ini menandatangani kontrak kerja selama tiga tahun. Sebagian dari mereka pulang ke tanah asal setelah kontrak berakhir, sementara yang lain memilih menetap dan membangun keluarga bersama perempuan Aborigin atau Eropa. Dari komunitas itulah nilai-nilai Islam mulai tumbuh di Australia.


Peran Strategis di Wilayah Terpencil

Philip Jones, kurator pameran tentang para penunggang unta Afghan di Perpustakaan Nasional Australia, menyayangkan bahwa masyarakat Australia selama ini hanya menempatkan peran mereka sebagai catatan kaki dalam sejarah resmi yang berpusat pada eksplorasi orang kulit putih. Padahal, menurut Jones, para penunggang unta ini berkontribusi besar di wilayah pedalaman. Mereka membuka rute baru, mengangkut wol, menghubungkan permukiman terpencil dengan pasar, dan menciptakan jalur distribusi yang menopang perekonomian negeri ini.


Komunitas yang Menjaga Tradisi dan Membangun Masjid

Antara tahun 1860-an dan 1920-an, Australia mendatangkan sekitar 20.000 unta dan 2.000 penunggang unta dari Afghanistan, Baluchistan, dan wilayah yang kini dikenal sebagai Pakistan. Mayoritas penunggang unta berasal dari suku Pashtun, meskipun penduduk Australia menyebut mereka secara umum sebagai “orang Afghan.” Mereka membentuk komunitas sendiri, hidup terpisah dari warga kulit putih, menjaga tradisi, dan berpegang teguh pada ajaran Islam hingga akhir hayat. Mereka juga membangun masjid di Coolgardie, Cloncurry, Marree, dan Broken Hill.


Warisan Fisik dan Kultural yang Tertinggal

Komunitas Afghan membangun masjid pertama Australia di Marree pada tahun 1882. Beberapa tahun kemudian, mereka juga membangun masjid besar di Adelaide pada tahun 1890 sebagai kontribusi terhadap dakwah dan kehidupan beragama.

Jejak keberadaan mereka masih terlihat di berbagai wilayah Australia. Tak hanya pada bangunan masjid, tetapi juga pada nama tempat dan jalur transportasi. Pemerintah menamai jalur kereta dari Darwin ke Adelaide sebagai The Ghan, singkatan dari “Afghan”, untuk menghormati jasa mereka. Beberapa nama tempat seperti Bejah Hill dan Saleh’s Fish Pond juga mengenang tokoh-tokoh Afghan yang berjasa. Dalam berbagai ekspedisi, para penunggang unta ini sering menyelamatkan nyawa penjelajah kulit putih dan menunjukkan keahlian luar biasa. Beberapa dari mereka bahkan berhasil meraih posisi terhormat, seperti Mohamet Allum yang kemudian menjadi ahli herbal terkenal di kalangan elite. Namun, masyarakat kulit putih tetap bersikap rasial dan terus meminggirkan mereka dari arus utama kehidupan sosial.


Senjakala Para Penunggang Unta

Selama lebih dari lima puluh tahun, mereka turut menggerakkan roda perekonomian Australia. Namun ketika kendaraan bermotor mulai menggantikan peran unta pada 1920-an, para penunggang unta pun kehilangan pekerjaan. Ketika Shefik Talanavic, seorang pemuda Bosnia, datang ke Australia pada musim panas 1952 dan mengunjungi masjid Adelaide, ia menemukan pemandangan yang mengharukan. Ia melihat enam atau tujuh lelaki tua bersorban sedang duduk dan berbaring di halaman masjid. Usia mereka berkisar antara 87 hingga 117 tahun. Mereka adalah para penunggang unta terakhir yang telah kehilangan tempat dalam struktur ekonomi modern. Mereka menjadikan masjid itu sebagai tempat perlindungan menjelang akhir hayatnya. Shefik dan teman-temannya kemudian merenovasi masjid tersebut, dan mereka menyaksikan satu per satu para penunggang unta itu wafat dan dikuburkan. Mereka tidak meninggalkan harta maupun warisan materi, kecuali masjid yang mereka bangun dengan penuh ketulusan.


Sejarah yang Terlupakan, Diangkat Kembali

Meskipun mereka telah memberi kontribusi penting dalam sejarah pembangunan Australia, masyarakat selama puluhan tahun justru mengabaikan kisah mereka. Baru sejak tahun 2004, perhatian terhadap sejarah penunggang unta Afghan mulai tumbuh kembali.


Sejarah, Simpati, dan Kepentingan Modern

Ironisnya, gelombang penghargaan terhadap warisan mereka justru muncul setelah Australia ikut serta dalam invasi ke Afghanistan pada awal 2000-an. Pemerintah berdalih ingin memerangi terorisme dan membebaskan rakyat Afghan. Namun, banyak kalangan menilai bahwa tujuan ekonomi tersembunyi berada di balik kebijakan tersebut.

Kini muncul pertanyaan: apakah pengangkatan kembali sejarah para penunggang unta Afghan ini bertujuan untuk membangun simpati publik dan membenarkan keterlibatan Australia di Afghanistan? Dahulu, Australia mengimpor unta dan penunggangnya demi pembangunan ekonomi. Sekarang, ketika unta tak lagi dibutuhkan, apakah mereka ingin mengeksploitasi sumber daya negeri para mullah? Biarlah sejarah yang kelak menjawab semuanya.

Sumber: Hidayatullah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *