NATOLA – Terdapat beberapa kasus unik dalam sejarah, di mana bangsa penakluk lah yang kemudian terpengaruh oleh budaya bangsa yang mereka kalahkan. Dibuktikan dengan tulisan mengenai “Mozarabic Christian” yang menjelaskan bahwa seringkali bangsa yang ditaklukkan cenderung meniru budaya bangsa penakluk—mulai dari cara berpakaian, bahasa, hingga aspek budaya lainnya.
Contohnya terlihat pada bangsa Norman yang menguasai Sisilia. Meskipun mereka berhasil merebut wilayah tersebut dari kaum Muslimin, mereka kemudian mengadopsi sebagian budaya Islam yang saat itu jauh lebih maju dari kebudayaan Barat. Namun pengaruh itu tidak bertahan lama. Bangsa Norman tetap pada agama Kristen, dan seiring menguatnya otoritas gereja Katolik, pengaruh Islam di wilayah tersebut akhirnya hilang.
Tulisan ini berfokus pada kasus yang lebih besar: bangsa Mongol yang awalnya menaklukkan dunia Islam dan banyak wilayah lain, namun pada akhirnya justru dipengaruhi dan tunduk pada keyakinan serta budaya kaum yang mereka taklukkan. Ini terjadi di abad ke-13, saat kekuatan militer Mongol meluas dari Asia Tengah hingga ke Timur Tengah dan Eropa Timur. Namun dominasi fisik mereka tidak serta-merta membawa pengaruh budaya yang langgeng. Militer bisa menguasai secara fisik, tetapi kekuatan sejati terletak pada keyakinan dan ilmu pengetahuan—dua hal yang tidak dimiliki secara kuat oleh bangsa Mongol.
Kemunculan Temujin, atau Genghis Khan, yang menyatukan suku-suku Mongol pada 1206, menjadi titik awal ekspansi besar-besaran. Setelah satu wilayah ditaklukkan, nafsu penaklukan Mongol hanya makin menggelora. Kerajaan-kerajaan besar seperti di China, Rusia, Persia, hingga Baghdad dihancurkan. Bagi umat Islam, serangan Mongol seperti pertanda akhir zaman, sebanding dengan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Bahkan berabad-abad kemudian, warga Herat di Afghanistan masih mengingat kekejaman Mongol seolah baru terjadi kemarin.
Wilayah demi wilayah dikuasai: China Utara pada 1211, Khwarizm pada 1219, Baghdad pada 1258. Namun meski sukses secara militer, bangsa Mongol tidak meninggalkan warisan budaya besar. Mereka tetap dikenal sebagai penunggang kuda dan prajurit tangguh, bukan sebagai ilmuwan atau seniman. Akhirnya, kekosongan budaya ini diisi oleh bangsa-bangsa lain, terutama kaum Muslimin.
Sejak awal, Genghis Khan sudah mengadopsi unsur budaya Islam, seperti penggunaan aksara Uyghur dan pendidikan anak-anaknya oleh kaum terpelajar Uyghur. Meski terkenal brutal saat perang, para pemimpin Mongol cenderung toleran terhadap ulama dan tempat ibadah setelah penaklukan. Kaum Muslimin tetap memainkan peran penting dalam mengelola wilayah-wilayah yang dikuasai Mongol, dan lama kelamaan, banyak pemimpin Mongol sendiri memeluk Islam.
Berke Khan, salah satu pemimpin Mongol di wilayah Golden Horde (meliputi Rusia dan Asia Tengah), adalah yang pertama masuk Islam. Ia bahkan menentang sepupunya, Hulagu Khan, karena menghancurkan Baghdad. Dinasti Ilkhan yang didirikan Hulagu pun akhirnya menjadi kerajaan Muslim. Sejarah bangsa Mongol banyak ditulis oleh para cendekiawan Muslim Persia seperti Juwaini dan Rashid al-Din.
Di China, di bawah Dinasti Yuan, banyak posisi penting diisi oleh Muslim. Bahkan Dinasti Ming yang menggantikan Yuan dikaitkan dalam beberapa sumber sebagai dinasti Muslim. Muslim seperti Cheng Ho, pelaut besar yang menjelajah dunia, menjadi bukti bahwa kaum Muslimin justru makin menonjol dalam ilmu dan pemerintahan.
Meski semula ditaklukkan secara militer, kaum Muslimin justru menaklukkan Mongol melalui kekuatan intelektual dan spiritual mereka.
Situasi ini mencerminkan kondisi umat Islam hari ini. Meski kini berada dalam posisi lemah dan banyak terpengaruh peradaban Barat, justru semakin banyak masyarakat Barat yang masuk Islam. Bahkan gereja-gereja pun berubah menjadi masjid. Mungkinkah sejarah akan terulang? Seperti bangsa Mongol dahulu yang akhirnya menerima Islam, apakah bangsa Barat suatu hari juga akan berbalik menerima keyakinan dari peradaban yang pernah mereka taklukkan.

