Ditunda karena Keamanan, Jemaah Haji Surabaya Masih Nyaman Menunggu Kepulangan

NATOLA – Di tengah dinamika perang antara Iran dan Israel, penerbangan internasional turut terdampak, termasuk pemulangan jemaah haji dari Jeddah ke Surabaya.

Sebagaimana dilaporkan oleh laman Kementerian Agama pada Selasa (24/05/2025), penundaan sempat dialami oleh dua kloter asal Surabaya karena alasan keamanan jalur udara. Namun, keamanan seluruh jemaah telah dipastikan, dan kini mereka tengah menunggu jadwal penerbangan selanjutnya dari hotel di Jeddah.

Meski demikian, ditegaskan oleh Kementerian Agama bahwa secara keseluruhan, proses pemulangan jemaah haji Indonesia masih berlangsung dengan lancar dan sesuai jadwal.

“Insya Allah, pendorongan jemaah akan terus dilakukan sesuai dengan program yang telah dirancang. Sebagian jemaah telah diberangkatkan ke Bandara Jeddah untuk kembali ke Indonesia, sementara sebagian lainnya masih ditempatkan di Madinah dan akan tinggal selama sekitar sembilan hari ke depan sebelum dipulangkan,” ujar Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Hilman Latief, di Makkah pada Selasa (24/6/2025).

Dijelaskan oleh Hilman bahwa dua kloter dari Embarkasi Surabaya (SUB 43 dan SUB 44), yang masing-masing terdiri dari sekitar 380 jemaah, mengalami penundaan penerbangan akibat eskalasi situasi di sejumlah wilayah Timur Tengah.

Atas pertimbangan keamanan, penundaan keberangkatan kedua kloter tersebut telah diputuskan oleh maskapai Saudia Airlines.

“Alhamdulillah, penempatan jemaah telah dilakukan dengan aman di hotel-hotel di Jeddah sambil menunggu informasi lebih lanjut dari pihak maskapai. Hingga saat ini, jadwal terbaru belum diberikan, namun insya Allah, pemberangkatan akan segera dilakukan setelah rotasi pesawat memungkinkan,” kata Hilman.

Meskipun dua kloter terkena penundaan, pemulangan jemaah secara keseluruhan masih tetap berlangsung normal.

Menurut Hilman, sebagian besar maskapai yang digunakan jemaah Indonesia melewati rute-rute udara yang aman, seperti wilayah udara Oman. Karena itu, penerbangan kloter lainnya tetap dijalankan sesuai jadwal.

“Koordinasi terus dilakukan dengan KJRI, KBRI, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, serta para penyedia layanan (syarikah). Persiapan untuk fase pemulangan dari Madinah juga sedang dilakukan, yang dijadwalkan dimulai pada 26 Juni,” katanya.

Disebutkan oleh Hilman bahwa fase ini merupakan fase tersibuk, karena lebih dari 100 ribu jemaah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Setiap hari, sekitar 4.000 hingga 7.000 jemaah dijadwalkan untuk dipulangkan ke tanah air.

“Pemantauan dilakukan secara ketat dan berbagai upaya terus dilakukan untuk memastikan seluruh proses berjalan aman dan lancar. Mohon doa dari masyarakat Indonesia agar proses pemulangan ini tidak mengalami hambatan berarti,” tutup Hilman.

Baca selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *