Oase Jum’at: Dari Kesalahan Menuju Pengampunan: Jalan Taubat Seorang Mukmin

NATOLA – Dalam catatan sejarah Islam, terdapat sebuah kisah menyentuh hati dari salah seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Abu Lubabah bin Abdul Munzir. Kisah ini bukan sekadar cerita masa lampau, tetapi sebuah pelajaran hidup yang menggambarkan betapa dalamnya rasa bersalah seseorang ketika menyadari kesalahannya di hadapan Allah dan Rasul-Nya.

Abu Lubabah pernah merasa bahwa dirinya telah melakukan tindakan yang keliru—bahkan ia menilainya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Rasulullah ﷺ. Dalam suasana batin yang dipenuhi penyesalan, ia melakukan sesuatu yang sangat luar biasa: ia mengikat dirinya sendiri di salah satu tiang masjid Nabawi dan bersumpah tidak akan melepaskan diri, tidak akan makan dan minum, kecuali Allah menerima taubatnya. Ia tinggal dalam kondisi itu selama beberapa hari, dalam kehinaan diri, menanti ampunan Ilahi.

Tindakan ini menunjukkan tingkat kejujuran dan keikhlasan Abu Lubabah. Ia tidak mencari pembenaran atas kesalahannya, tidak pula berlindung di balik alasan atau situasi. Ia sadar sepenuhnya atas kekeliruannya dan memilih jalan penebusan yang berat, semata karena rasa takut dan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kisah ini adalah cermin bagi kita semua: manusia memang tempat salah dan lupa, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi kesalahan itu. Apakah kita meremehkannya? Atau justru menjadikannya titik balik menuju kehidupan yang lebih lurus dan bersih?

Taubat dan muhasabah adalah dua kunci penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Taubat membuka pintu perbaikan diri, sementara muhasabah adalah alat untuk mengenali kekeliruan dan membenahi langkah.

Kini, menjelang datangnya Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, ini adalah momentum yang sangat tepat untuk berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri kita. Sudah sejauh mana kita hidup dalam ketaatan? Sudahkah ilmu kita membawa kita lebih dekat kepada Allah? Apakah akhlak kita telah mencerminkan teladan Rasulullah ﷺ?

Seringkali, kita terjebak dalam zona nyaman dan merasa cukup dengan apa yang telah kita lakukan. Namun, jika kita mau jujur, masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang belum tuntas: amal yang harus diperbaiki, niat yang harus diluruskan, serta dosa yang perlu disesali. Maka, jangan biarkan kepuasan semu menghalangi langkah perbaikan.

Waktu terus berputar, dan setiap detik yang berlalu adalah pengingat bahwa hari penghisaban kian dekat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini memberikan pesan mendalam: bahwa setiap mukmin harus menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Tidak cukup hanya berharap, tetapi perlu ada upaya nyata dan kesungguhan dalam memperbaiki diri.

Nabi Muhammad ﷺ juga memberikan penegasan melalui sabda beliau:

“Orang yang cerdas adalah yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjadi panduan sekaligus peringatan: bahwa kecerdasan sejati terletak pada kemampuan seseorang untuk melakukan muhasabah secara berkala dan menyusun rencana kehidupan berdasarkan kesadaran akan kematian dan hari pembalasan.

Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan ketegasannya, juga berkata:

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Bersiaplah untuk hari besar (yaumul hisab). Karena hisab akan menjadi ringan bagi siapa saja yang terbiasa mengevaluasi dirinya di dunia.”

Umar menekankan pentingnya membiasakan diri melakukan muhasabah, karena ini akan mempermudah proses hisab di akhirat kelak. Semakin kita membenahi diri di dunia, semakin ringan pertanggungjawaban kita di akhirat.

Ada tiga waktu penting untuk bermuhasabah:

  1. Sebelum melakukan suatu perbuatan.
    Di tahap ini, seseorang menimbang dengan cermat apakah tindakannya akan membawa manfaat atau justru menimbulkan mudarat. Berpikir sebelum bertindak adalah ciri orang bijak.
  2. Saat melakukan perbuatan.
    Evaluasi di tengah perjalanan sangat penting untuk menjaga agar tidak melenceng dari tujuan awal. Banyak orang memulai dengan niat baik, tetapi tergelincir di tengah jalan karena kurangnya kontrol diri.
  3. Setelah melakukan perbuatan.
    Di sinilah introspeksi benar-benar diperlukan. Apakah perbuatan kita sesuai dengan niat? Adakah kekeliruan yang harus diperbaiki? Kesalahan yang diakui adalah kunci untuk tidak mengulanginya di masa depan.

Jika kita terbiasa menghitung untung-rugi dalam urusan dunia, maka terlebih lagi kita harus cermat dalam urusan akhirat. Karena kelalaian dalam dunia bisa kita tebus, tapi kelalaian dalam akhirat adalah kerugian abadi.

Kisah Abu Lubabah menjadi pengingat yang hidup bahwa setiap kita punya peluang untuk berubah. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mengakui kesalahan dan keikhlasan untuk bertobat.

Maka mari kita sambut Tahun Baru Islam ini dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan tekad yang kuat untuk terus memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, hanya mereka yang senantiasa menghisab dirinya di dunia, yang akan merasakan ringannya hisab di akhirat kelak.

 

Sumber: Hidayatullah.com

“Dengan Natola Travel, Anda tidak hanya menjalani ibadah, tetapi juga memperoleh pembinaan spiritual, manasik eksklusif, dan layanan yang terpercaya. Daftar sekarang dan dapatkan bonus perlengkapan umrah secara gratis!”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *