Reboot Spiritual: Tahun Baru, Arah Baru

NATOLA – Memasuki tahun baru Hijriah 1447 H, mari kembali mengenang peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Saat itu, komunitas Muslim di Mekkah mengalami tekanan dan penindasan, hingga satu-satunya pilihan yang mereka miliki adalah meninggalkan tanah kelahiran mereka dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman, yaitu Madinah.

HIJRAH RASULULLAH BERSAMA ABU BAKAR

Nabi Muhammad SAW memulai perjalanan hijrah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq pada malam hari, di akhir bulan Safar tahun pertama Hijriah. Mereka sempat bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari, kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di Quba, selatan Madinah, pada tanggal 8 Rabiul Awwal. Di sana, Rasulullah mendirikan masjid dan tinggal selama empat hari, sebelum akhirnya masuk ke Madinah dan disambut hangat oleh penduduk setempat. Kisah ini sarat akan hikmah dan nilai spiritual, dan menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam.

CERITA HIJRAH

Secara harfiah, hijrah berarti perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Fenomena ini telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan memiliki berbagai latar belakang, mulai dari alasan ekonomi, politik, sosial, hingga bencana alam. Seiring waktu, banyak orang berpindah karena kesulitan hidup di tempat asal, atau karena terdorong mencari kondisi yang lebih baik.

Misalnya, dalam sejarah, orang-orang China bermigrasi demi kesejahteraan ekonomi, bangsa-bangsa di bawah Kekaisaran Romawi dipindahkan karena strategi politik, hingga orang-orang Yahudi yang tersebar akibat penjajahan Romawi atas Yerusalem. Bahkan di Indonesia, migrasi terjadi karena konflik politik dan bencana alam, seperti pemindahan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur akibat letusan Gunung Merapi.

BENTUK HIJRAH

Namun, ada bentuk hijrah yang berbeda: hijrah karena iman, sebagaimana dilakukan oleh para nabi dan orang-orang shalih. Mereka berpindah bukan karena dunia, tapi karena taat kepada perintah Allah. Contohnya adalah Nabi Ibrahim yang membawa keluarganya ke Mekkah, Nabi Yusuf yang mengajak keluarganya ke Mesir, dan Nabi Musa yang memimpin Bani Israil keluar dari penindasan Mesir menuju Palestina.

Dalam Islam, niat adalah inti dari hijrah. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa siapa pun yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya bernilai ibadah. Namun, jika motivasinya duniawi atau karena urusan pribadi, maka nilainya pun akan sesuai dengan niat tersebut.

Selain hijrah secara fisik, ada juga hijrah secara maknawi, yaitu perpindahan dari keburukan menuju kebaikan: dari kekufuran menuju keimanan, dari kebodohan menuju ilmu, dan dari akhlak buruk menuju akhlak mulia. Bentuk hijrah inilah yang relevan sepanjang zaman, bahkan lebih penting di era sekarang.

Hijrah, baik fisik maupun maknawi, pada dasarnya menuntut pengorbanan dan menghadirkan tantangan. Mereka yang berpindah ke tempat baru akan menghadapi lingkungan yang asing, budaya yang berbeda, bahkan kesulitan ekonomi. Namun, justru dari ketidaknyamanan itu, terbuka ruang untuk tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya juga merasakan hal tersebut saat berada di Madinah. Mereka menghadapi iklim baru, kondisi sosial yang kompleks, dan ancaman luar. Namun berkat kepemimpinan Nabi dan semangat kebersamaan antara Muhajirin dan Anshar, mereka berhasil membangun komunitas yang kuat dan mandiri.

Setelah penaklukan kota Mekkah, bentuk hijrah fisik seperti itu tidak lagi diwajibkan. Namun, semangat hijrah tetap hidup dalam bentuk perjuangan untuk memperbaiki diri, baik secara pribadi maupun kolektif. Setiap Muslim diharapkan terus melakukan transformasi spiritual agar lebih dekat kepada Allah.

REFLEKSI DIRI

Menutup refleksi tahun baru Hijriah ini, marilah kita jadikan momentum 1447 H sebagai awal dari hijrah pribadi: meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki kualitas ibadah, meningkatkan ilmu, dan memperkuat iman. Semoga kita semua termasuk golongan yang berhijrah menuju kebaikan dan mendapatkan ridha-Nya.

 

Sumber: Hidayatullah.com

“Mulai langkah hijrahmu dengan Natola Travel, Anda tidak hanya menjalani ibadah, tetapi juga memperoleh pembinaan spiritual, manasik eksklusif, dan layanan yang terpercaya. Daftar sekarang dan dapatkan bonus perlengkapan umrah secara gratis!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *