NATOLA – Ungkapan seperti “mengejar mimpi” atau “mencari kebahagiaan” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Banyak orang mencoba mendapatkan kebahagiaan lewat harta, kekuasaan, atau kebebasan. Bahkan tak sedikit yang meninggalkan keluarganya demi menemukan makna hidup yang lebih bebas dan bahagia. Namun, kebahagiaan seperti itu kerap kali hanya ilusi—sebuah gambaran semu yang lahir dari keinginan dan persepsi manusia terhadap dunia.
Ketika seseorang berbicara tentang “mencari” kebahagiaan, ia seolah menggambarkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya—bergerak, tidak menetap, dan sulit dijangkau. Akibatnya, setiap orang memaknai kebahagiaan secara berbeda-beda, tergantung pada pencapaian duniawi seperti kesuksesan, kekayaan, atau status sosial.
Namun para pemikir Islam memandang kebahagiaan dari sudut yang lebih dalam. Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas, melalui bukunya The Meaning and Experience of Happiness in Islam, menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari tubuh, hawa nafsu, atau akal semata. Ia menyatakan bahwa kebahagiaan hakiki lahir dari pengenalan terhadap kebenaran mutlak, yaitu Allah Ta’ala. Dengan kata lain, kebahagiaan bersifat ruhani dan hanya bisa dicapai melalui keimanan yang kokoh.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Al-Kindi. Ia menjelaskan bahwa manusia tidak akan menemukan kebahagiaan sejati dalam kenikmatan fisik atau gemerlap dunia. Sebaliknya, manusia bisa merasakan kebahagiaan ilahiah ketika ia menyucikan jiwanya dari syahwat dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibnu Thufail, dalam karyanya Hayy bin Yaqdzan, mempertegas bahwa puncak kebahagiaan terletak pada pengenalan terhadap Sang Pencipta—Wajib al-Wujud—yang keindahan dan kesempurnaan-Nya tak terbatas. Menurutnya, semua bentuk kesempurnaan dan keindahan yang ada di alam semesta bersumber dari-Nya dan memancar dari cahaya-Nya.
Ketiga tokoh ini memandang bahwa kebahagiaan memiliki hubungan erat dengan iman. Mereka merujuk pada perjanjian azali antara manusia dan Tuhan, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-A’raf ayat 172. Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkan manusia akan janji awal mereka:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).'”
(QS. Al-A’raf: 172)
Dari sinilah dapat dipahami, bahwa kebahagiaan bukanlah sekadar rasa senang atau hasil pencapaian duniawi. Kebahagiaan sejati lahir dari keyakinan mendalam akan hakikat hidup, jati diri, dan tujuan akhir kehidupan manusia—semuanya berpangkal pada cinta dan penyerahan diri kepada Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, kita tidak perlu mengejar kebahagiaan ke luar diri. Sebaliknya, kita perlu kembali kepada fitrah iman yang telah Allah tanamkan dalam jiwa. Di sanalah letak kebahagiaan yang tidak bergantung pada dunia, melainkan bersumber dari kedalaman ruh dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Sumber : Hidayatullah.com
🕋 Mencari Kebahagiaan di Dunia? Mungkin Saatnya Menuju Baitullah…
🌟 Umrah bukan sekadar perjalanan, tapi momen menemukan kembali makna hidup.
📅 Jadwal keberangkatan: 4 Agustus 2025, 19 Agustus 2025, 4 September 2025, 20 September 2025, 4 Oktober 2025, 15 November 2025, 30 November 2025.
👳♂️ Special bersama Ustadz Ahmad Syaichu pada Januari 2025
🕌 Bimbingan spiritual & pengalaman ruhani mendalam
📲 Daftarkan dirimu sekarang. Karena mungkin, bahagiamu dimulai dari sini.
💬 Hubungi kami: 082180004323

