Yahudi: Agama, Ras, atau Keduanya?
Banyak orang memaknai istilah “Yahudi” sebagai perpaduan antara agama dan ras. Mereka menganggap Yudaisme sebagai agama eksklusif milik keturunan Bani Israil, yakni anak-anak Nabi Ya’qub `alaihis salam yang terbagi dalam dua belas suku. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa tidak semua keturunan Yahudi memeluk Yudaisme, dan sebaliknya, ada pula bangsa non-Israil yang memeluk agama ini.
Penyebaran Yudaisme di Luar Bani Israil
Agama Yahudi sempat berkembang di luar Bani Israil melalui dakwah, bukan migrasi. Di Yaman, misalnya, para rabi Yahudi berhasil mengajak penguasa setempat memeluk Yudaisme. Salah satunya adalah Raja Dzu Nuwas, yang pada 523 M menyerang komunitas Kristen di Najran. Tindakan itu memicu invasi Ethiopia ke wilayah Yaman. Selain itu, beberapa suku Berber di Afrika Utara—seperti suku Jawara, Nafusa, dan Kahina—juga menganut Yahudi sebelum Islam masuk ke kawasan tersebut.
Khazar: Bangsa Turki yang Memeluk Yudaisme
Bangsa Khazar merupakan kelompok etnis keturunan Turki yang menetap di wilayah utara Laut Hitam, yang kini masuk dalam wilayah Rusia selatan. Mereka menguasai wilayah yang berbatasan dengan kekhalifahan Islam di selatan dan Byzantium di barat. Kerajaan Khazar berdiri sejak abad ke-7 dan menjadi kekuatan dominan di Kaukasus hingga abad ke-10. Mula-mula mereka menganut paganisme dan shamanisme, tetapi pada abad ke-9, para penguasanya memeluk Yudaisme.
Pilihan Raja Bulan atas Agama Yahudi
Raja Khazar bernama Bulan memutuskan untuk memilih agama Yahudi setelah mengundang para pemuka agama Islam, Kristen, dan Yahudi untuk menjelaskan ajaran masing-masing. Setelah mempelajarinya, ia memilih Yudaisme karena menganggapnya paling logis dan kokoh secara teologis. Keputusan itu kemudian mengubah arah spiritual kerajaan. Filusuf Yahudi Andalusia, Yehuda ha-Levi, mendokumentasikan peristiwa ini dalam bukunya Sefer ha-Kuzari, yang menggambarkan dialog filosofis antara sang raja dan para tokoh agama.
Konversi Diam-Diam dan Komitmen yang Bertumbuh
Dalam kisah ha-Levi, Raja Bulan dan wazirnya melakukan perjalanan ke wilayah pegunungan. Mereka bertemu komunitas Yahudi yang sedang merayakan Sabat dan, tanpa mengungkap identitas, masuk agama Yahudi secara diam-diam dan menjalani sunat di gua. Setelah kembali ke istana, mereka memperdalam ilmu agama Yahudi secara rahasia, sebelum akhirnya mengumumkan konversi mereka dan mengajak rakyat Khazar mengikuti jejak yang sama.
Dukungan Negara terhadap Yudaisme
Setelah sang raja memeluk Yahudi, kerajaan Khazar mendirikan sinagog, mengundang rabi dari luar negeri, dan mengembangkan sistem pendidikan berbasis agama. Meski masih ada komunitas Muslim dan Kristen, mayoritas penduduk akhirnya mengikuti keyakinan penguasanya. Sejak abad ke-10, identitas Yahudi mulai melekat kuat pada bangsa Khazar.
Surat-Surat dari Andalusia dan Pengakuan Resmi
Seorang tokoh Yahudi Andalusia, Hasdai ibn Shaprut, mengetahui keberadaan kerajaan Yahudi Khazar. Pada pertengahan abad ke-10, ia mengirim surat kepada Raja Joseph dari Khazar untuk menggali informasi lebih dalam. Setelah suratnya berhasil sampai, Raja Joseph membalas dengan penjelasan panjang tentang sejarah konversi kerajaan dan asal-usul bangsanya. Para raja Khazar mulai menggunakan nama-nama Semitik seperti Yitzhak, Benjamin, dan Aaron, sebagai bentuk identifikasi spiritual.
Keruntuhan Khazar dan Penyebaran ke Eropa
Pada 960-an, bangsa Rus menyerang Khazar dan menghancurkan ibu kota mereka, Atil. Meskipun kerajaan masih bertahan beberapa dekade setelahnya, kekuatannya terus melemah. Banyak orang Khazar bermigrasi ke Eropa Timur, seperti Hungaria dan Polandia, lalu berbaur dengan komunitas Yahudi setempat. Lama-kelamaan, identitas Khazar menghilang, dan tak ada lagi wilayah bernama Khazaria.
Teori Khazar dan Asal-Usul Yahudi Askhenazi
Sebagian peneliti modern, seperti Arthur Koestler dalam bukunya The Thirteenth Tribe, meyakini bahwa Yahudi Askhenazi berasal dari Khazar, bukan Bani Israil. Ia menyebut mereka sebagai “suku ketiga belas” dalam sejarah Yahudi. Teori ini mengusik legitimasi klaim atas tanah Palestina, karena jika mereka bukan keturunan Israil, maka mereka tidak punya alasan historis untuk “kembali” ke wilayah tersebut.
Kritik Shlomo Sand terhadap Identitas Yahudi
Shlomo Sand, sejarawan dari Universitas Tel Aviv, memperkuat argumen ini dalam bukunya The Invention of the Jewish People. Ia menyatakan bahwa “bangsa Yahudi” bukanlah entitas historis, melainkan ciptaan sejarawan abad ke-19 dan 20 yang melayani ideologi Zionisme. Sand menolak anggapan bahwa orang Yahudi diusir dari Palestina, dan meyakini mayoritas Yahudi kala itu tetap tinggal, lalu masuk Islam dan menjadi bagian dari bangsa Arab Palestina.
Bukti Genetik dan Jejak Semitik
Penelitian DNA dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa Yahudi modern memiliki warisan genetik dari Timur Tengah, terutama dari garis paternal. Kromosom Y mereka serupa dengan orang Palestina, Suriah, dan Lebanon. Namun, gen R-M17 yang banyak ditemukan pada Yahudi Askhenazi mengindikasikan adanya pengaruh genetik Eropa Timur, yang mungkin berasal dari bangsa Khazar. Para peneliti masih memperdebatkan apakah wanita Yahudi ikut bermigrasi atau mereka menikah dengan perempuan lokal.
Soal Klaim Palestina: Asal-Usul Tak Menentukan Hak
Apakah mereka keturunan Bani Israil atau Khazar, klaim Yahudi atas Palestina tetap tak bisa dibenarkan jika mereka menindas penduduknya. Jika benar berasal dari Israil, mereka seharusnya menjaga warisan moral para nabi. Namun jika berasal dari Khazar, maka dusta sejarah hanya memperparah kezaliman. Sayangnya, bangsa yang tak mengenal malu jarang peduli pada kebenaran.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Sumber: Hidayatullah.com

