Seorang sahabat pernah melontarkan pertanyaan yang cukup sering muncul di tengah masyarakat: apa gunanya mengelilingi Ka’bah? Pertanyaan ini juga yang dijawab secara mendalam dalam buku Dialog dengan Teman Ateis karya Dr. Mustafa Mahmud.
Menurut sebagian orang, ritual haji dianggap sebagai bentuk kemusyrikan. Mereka menuduh umat Islam menyembah bangunan batu, mencium Hajar Aswad, hingga mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Namun, penjelasan ilmiah justru menunjukkan sebaliknya.
Dalam hukum fisika, benda kecil selalu bergerak mengelilingi yang lebih besar. Elektron mengorbit inti atom, bulan mengitari bumi, dan bumi beredar mengelilingi matahari. Bahkan galaksi pun berputar mengelilingi sistem yang lebih besar. Semua gerakan itu bermuara pada Yang Mahabesar, Allah SWT.
“Tidak ada yang statis dalam kosmos selain Allah. Segala sesuatu bergerak mengelilingi-Nya,” tulis Mustafa Mahmud. Karena itu, tawaf bukan sekadar ritual tanpa makna, tetapi bagian dari hukum alam yang sudah Allah tetapkan.
Lebih jauh, ibadah haji juga sarat dengan simbol kehidupan. Lari-lari kecil dari Shafa ke Marwah melambangkan perjalanan manusia dari ketiadaan menuju kehidupan, lalu kembali ke ketiadaan. Sementara melempar jumrah mencerminkan penolakan terhadap godaan setan.
Mengenai angka tujuh yang kerap dijadikan bahan olok-olok, ternyata angka ini justru menyimpan rahasia besar. Warna pelangi ada tujuh, hari dalam sepekan ada tujuh, langit dan bumi disebut berlapis tujuh, bahkan elektron memiliki tujuh tingkat energi. Manusia pun diciptakan melalui tujuh tahap perkembangan sebelum lahir.
Karena itu, kemunculan angka tujuh dalam syariat bukan kebetulan. Ia mencerminkan keteraturan hukum Allah dalam alam semesta yang kemudian tercermin dalam ibadah haji dan umrah.
Dengan begitu, ritual tawaf yang sering dipandang aneh oleh sebagian orang, sejatinya merupakan bagian dari sistem kosmik yang penuh makna, bukan sekadar tradisi atau khurafat.

