Hadis Nabi: Siapa Muslim Terbaik?
Khatib mengutip hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
“Siapa muslim yang terbaik?”
Beliau menjawab:
“Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kebaikan seorang muslim bukan hanya pada ibadah ritual, namun pada bagaimana ia memperlakukan saudaranya—melalui perkataan maupun tindakan.
Makna ‘Lisan’ dan ‘Tangan’ yang Lebih Luas
Istilah lisan tidak sebatas kata yang diucapkan. Ia mencakup sindiran, ejekan, merendahkan, hingga komentar yang menyakitkan. Sementara tangan tidak hanya tentang tindakan fisik, tetapi juga tulisan—termasuk unggahan di media sosial—yang dapat mencederai orang lain meski penulisnya telah tiada.
Di era digital yang penuh arus komentar dan opini, media sosial disebut menjadi arena ujian terbesar. Betapa mudah seseorang tergelincir dalam:
-
ghibah dan fitnah
-
ujaran kebencian
-
saling merendahkan
-
perundungan
-
kata-kata kasar
-
komentar yang merusak nama baik
“Cukup dengan gerakan jempol, kita bisa menyakiti hati orang lain,” ujar khatib mengingatkan jamaah.
Indikator Kesempurnaan Islam
Kemampuan menjaga lisan dan tangan adalah indikator utama kesempurnaan keislaman seseorang. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah individual, tetapi juga menetapkan standar akhlak dalam berinteraksi. Semakin kecil gangguan yang kita timbulkan, semakin baik kualitas keislaman kita.
Muslim Sejati adalah Sumber Manfaat
Muslim sejati adalah yang kehadirannya membawa manfaat, bukan mudarat. Mereka menggunakan lisan untuk menenangkan, bukan melukai; serta memakai tangan untuk membantu, bukan mencelakakan.
Sebaliknya, orang yang tidak peduli pada dampak usapan kata maupun tindakannya, dan hanya fokus pada kepentingan diri sendiri, disebut belum mencapai kesempurnaan iman.
Wujud Nyata Ukhuwah Islamiyah
Hadis ini juga mengokohkan konsep ukhuwah Islamiyah, yaitu ikatan persaudaraan yang dibangun di atas kasih sayang dan saling menjaga. Seorang muslim dituntut untuk tidak menjadi sumber masalah bagi saudaranya, tetapi menjadi penopang dan pemberi manfaat.
Muhasabah
-
Berapa banyak kata yang pernah kita ucapkan—apakah semuanya membawa kedamaian?
-
Berapa banyak tulisan yang kita bagikan—apakah semuanya bermanfaat?
-
Apa yang dilakukan tangan kita—mendatangkan kebaikan atau justru masalah?
Setiap kata dan perbuatan akan ditanya oleh Allah, dan setiap luka yang disebabkan seseorang akan menjadi saksi kelak.
Sumber: Hidayatullah.com

