NATOLA – Walimah sering dipahami sebagai bentuk ibadah. Lalu, apakah walimatul safar—yakni syukuran sebelum berangkat atau setelah pulang haji—termasuk ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ? Apakah ada dasar dari Al-Qur’an atau hadits yang mendukungnya?
Dalam kehidupan manusia, suasana suka dan duka datang silih berganti. Ketika memperoleh nikmat, manusia cenderung merasa bahagia. Sebaliknya, tertimpa musibah, ia akan merasa gundah. Fitrah ini mendorong seseorang untuk mengekspresikan rasa syukur kepada pemberi nikmat, namun saat musibah menimpa, responnya tentu berbeda.
Seorang mukmin yang sadar bahwa segala sesuatu—baik nikmat maupun ujian—datangnya dari Allah, akan bersikap sesuai petunjuk Nabi ﷺ:
“Jika ia mendapatkan nikmat, maka ia bersyukur, dan itu baik untuknya. Jika ia ditimpa musibah, maka ia bersabar, dan itu pun baik untuknya.”
(HR. Muslim)
Terkait dengan kesempatan berhaji, yang kerap menjadi cita-cita dan melalui proses panjang, sudah sepatutnya seorang Muslim mensyukurinya. Rasa syukur itu bisa lahir karena adanya kesehatan, kemampuan finansial, serta terjaminnya keberangkatan untuk menunaikan rukun Islam kelima. Bahkan, kepastian untuk berangkat saja sudah merupakan nikmat tersendiri.
Namun demikian, bentuk syukur sejati bukanlah pada acara seremonial, melainkan dengan memanfaatkan nikmat untuk menaati Allah. Dalam konteks ini, penyelenggaraan walimatul safar karena hendak berangkat haji tidak dikenal dalam khazanah fikih Islam.
Imam al-Bahuti, dalam bahasan tentang walimah, mencatat sebelas jenis walimah yang diakui ulama. Namun, walimah untuk orang yang hendak berhaji tidak termasuk di dalamnya. Hal serupa juga ditegaskan oleh Ibn Thuluun dalam kitab Fash al-Khawatim fi Ma Qila fi al-Wala’im. Dari dua belas jenis walimah yang disebutkan, tidak ada satupun yang mengarah pada konsep walimatul safar. Keduanya hanya menyebut istilah al-naqi’ah, yaitu jamuan makan yang disiapkan untuk menyambut orang yang baru pulang dari bepergian.
Walau demikian, tidak berarti menyelenggarakan acara makan-makan jelang keberangkatan itu terlarang. Dalam Islam, memberi makan orang lain sebagai bentuk sedekah jelas dianjurkan. Yang tidak dibenarkan adalah jika seseorang meyakini bahwa walimatul safar merupakan sunnah Nabi ﷺ atau bagian dari ibadah haji itu sendiri. Keyakinan seperti ini dapat menimbulkan anggapan keliru bahwa ibadah haji kurang sempurna jika acara tersebut tidak dilakukan.
Lebih jauh, jika pelaksanaan walimatul safar justru memberatkan secara finansial, atau menjadi ajang pamer dan prestise sosial, maka perlu ada pelurusan. Dalam kondisi seperti ini, bahkan bisa muncul fatwa larangan untuk mencegah kemudaratan.
Sementara itu, istilah al-naqi’ah yang disebutkan ulama, merujuk pada acara menyambut kedatangan orang dari bepergian, termasuk dari haji. Ulama dalam madzhab Syafi’i menyebut bahwa al-naqi’ah disunnahkan, terutama bagi mereka yang baru pulang dari haji (lihat Hasyiyah al-Qalyubi, II/190). Meski demikian, tidak ditemukan dalil khusus yang secara eksplisit membenarkan walimah bagi jamaah yang pulang haji.
Kemungkinan besar, dasar kebolehannya bersifat analogis, yakni disamakan dengan walimatul ‘urs (walimah nikah), karena keduanya merupakan momentum kebahagiaan. Jika acaranya dilandasi dengan niat syukur kepada Allah, tanpa keyakinan bahwa itu bagian dari syariat, maka hal tersebut boleh adanya. Meski begitu, semua tetap harus mengacu pada prinsip-prinsip syariat, khususnya terkait walimah sebelum keberangkatan haji.
Wallahu a’lam.
Sumber : Hidayatullah.com
🌿 Sudahkah Anda menjawab panggilan suci itu?
Setelah memahami hakikat niat dan syukur dalam ibadah, kini saatnya mewujudkan kerinduan kepada Tanah Suci.
🕋 Bersama Natola Travel, kami tidak hanya mengantarkan Anda secara fisik ke Baitullah, tapi juga membimbing perjalanan hati yang penuh makna.
Didampingi pembimbing berpengalaman, perjalanan umrah Anda akan terasa lebih ringan, tenang, dan insya Allah berpahala berlipat.

🌍 Pendaftaran & Info Lengkap: Hubungi kami 082180004323
✨ Mari jadi tamu Allah dengan penuh keikhlasan, bukan karena tuntutan tradisi, tapi karena panggilan cinta dari-Nya.

