Setiap Nikmat Adalah Amanah dan Ujian
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi dengan kondisi yang beragam. Ada yang diuji dengan kelapangan harta, ada pula yang diuji dengan keterbatasan. Semua perbedaan itu bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari ujian ilahi atas apa yang telah Allah titipkan kepada setiap hamba-Nya.
“Dan Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al-An’am: 165)
Ayat ini menegaskan bahwa kaya dan miskin bukan ukuran kemuliaan, melainkan sarana ujian untuk melihat siapa yang paling bertakwa.
Kisah Ibu dan Anak: Hikmah tentang Hisab Harta
Sebuah kisah sederhana menggambarkan realitas ini. Seorang anak bertanya kepada ibunya mengapa mereka hidup dalam kemiskinan. Sang ibu menjawab dengan analogi supermarket: setiap orang bebas mengambil barang, tetapi kelak harus membayar sesuai apa yang dibawanya. Orang yang membawa banyak akan diperiksa lama, sementara yang membawa sedikit akan lebih cepat pemeriksaannya.
Meski analogi ini tidak sepenuhnya menggambarkan proses hisab secara sempurna, pesan intinya jelas: semakin besar nikmat yang diterima seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Hisab yang Tak Terelakkan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi dan Ad-Darimi)
Hadis ini menegaskan bahwa harta bukan hanya soal jumlah, tetapi juga asal dan penggunaannya. Oleh karena itu, Islam menekankan kehati-hatian tinggi dalam perkara halal dan haram.
Semua Nikmat Akan Dipertanyakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang segala kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 7)
Para ulama seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh nikmat: harta, kesehatan, waktu, ilmu, bahkan kesempatan beramal. Semua akan dimintai pertanggungjawaban tanpa terkecuali.
Rasulullah juga telah memperingatkan akan datangnya masa ketika manusia tidak lagi peduli dari mana harta diperoleh, apakah halal atau haram. Sebuah peringatan yang relevan dengan realitas kehidupan modern saat ini.
Kaya dan Miskin Bukan Pilihan, Melainkan Ketetapan
Islam memandang kondisi ekonomi sebagai ketetapan Allah. Manusia diperintahkan untuk berusaha, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya. Kekayaan bukan tanda kemuliaan mutlak, dan kemiskinan bukan bukti kehinaan.
Allah menggambarkan sikap keliru manusia yang menilai nikmat dan kesempitan secara dangkal:
“Apabila Tuhannya memuliakannya dan memberi kesenangan, ia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun ketika rezekinya dibatasi, ia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’”
(QS. Al-Fajr: 15–16)
Padahal, keduanya adalah bentuk ujian.
Ujian Kesuksesan Lebih Berat dari Kegagalan
Secara psikologis, manusia lebih siap menghadapi kesuksesan dibanding kegagalan. Namun justru kesuksesan sering kali lebih berbahaya karena melahirkan kesombongan dan lupa diri.
Sebuah kisah inspiratif tentang seorang anak bernama Mark mengajarkan kebijaksanaan dalam berdoa. Ia tidak memohon kemenangan, melainkan kekuatan hati agar tidak bersedih jika kalah. Doa ini menunjukkan kedewasaan iman: meminta keteguhan, bukan sekadar hasil.
Nilai Hidup di Hadapan Allah
Seorang mukmin sejati tidak menjadikan kondisi hidup sebagai alasan untuk berbangga atau berputus asa. Yang ia cari adalah nilai di sisi Allah—bagaimana nikmat atau ujian itu mengantarkannya kepada ketaatan.
Teladan nyata terlihat pada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Meski memiliki kekayaan yang sangat besar, beliau tetap hidup zuhud, mengelola harta dengan prinsip syariah, dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:
“Barang siapa yang tujuan utamanya adalah akhirat, Allah akan menghimpun urusannya dan menjadikan kekayaan di hatinya. Namun siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan, Allah akan mencerai-beraikan urusannya.”
(HR. Ibnu Majah dan lainnya)
Menata Sikap terhadap Nikmat Bersama Natola Travel Umroh
Pemahaman tentang hakikat nikmat dan amanah harta menjadi bekal penting bagi setiap Muslim, terutama saat menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Natola Travel Umroh tidak hanya memfasilitasi perjalanan fisik jamaah, tetapi juga membimbing kesiapan spiritual—menanamkan nilai syukur, amanah, dan kesadaran hisab dalam setiap rangkaian ibadah.
Dengan pendampingan manasik dan pembinaan ruhiyah, Natola Travel Umroh mengajak jamaah menjadikan umroh sebagai momentum memperbaiki sikap hidup, termasuk dalam memandang harta dan nikmat Allah.

