Salah satu anugerah besar yang patut disyukuri adalah kecerdasan. Dengan kecerdasan itulah seseorang dapat membentuk karakter yang berkualitas, menjadi pribadi yang dinamis, atraktif, dan bernilai. Kecerdasan ibarat mutiara berharga—tidak hadir dengan sendirinya, tetapi tumbuh melalui proses panjang sejak seseorang masih kecil, bahkan sejak ia masih bayi.
Lantas, bagaimana cara membentuk kecerdasan yang baik dan benar?
Dalam konteks Islam, pembahasan tentang kecerdasan akan semakin relevan bila dikaitkan dengan Al-Qur’an. Pertanyaannya: bagaimana menjadikan kecerdasan sebagai sarana membentuk pribadi Qur’ani—pribadi yang berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai petunjuk Al-Qur’an?
Al-Qur’an tidak hanya membicarakan aspek-aspek diniyah (keagamaan) dan ubudiyah (peribadatan), tetapi juga menyimpan panduan untuk memahami berbagai persoalan kehidupan. Bila kandungan Al-Qur’an digali lebih dalam, dipelajari secara serius, dan dijadikan pedoman dalam membaca perkembangan zaman, maka umat Islam akan memiliki kemampuan berpikir yang jauh lebih matang.
Kemampuan berpikir yang bersumber dari Al-Qur’an inilah yang sering disebut sebagai kecerdasan Qur’ani atau Quranic Quotient.
Dengan kecerdasan Qur’ani, seorang muslim dapat menyikapi setiap perubahan zaman dengan landasan wahyu, bukan sekadar mengikuti arus atau opini sesaat. Umat Islam akan mampu hidup sesuai tuntunan Al-Qur’an dalam kondisi seperti apa pun—selama mereka mau mempelajari, mendalami, dan mendekatkan diri kepadanya.
Hanya saja, realitas hari ini menunjukkan bahwa banyak umat Islam masih jauh dari Al-Qur’an. Padahal, kedekatan dengan Al-Qur’an adalah pintu utama menuju kecerdasan yang sesungguhnya.
Sumber : Hidayatullah.com

