Portugis dan Kekalahannya yang Mengakhiri Kejayaan
Pada awal abad ke-16, kerajaan Portugis tampil sebagai kekuatan global yang disegani. Para penjelajahnya menjelajahi dunia, menjadi pionir yang mendarat di benua Amerika serta wilayah timur seperti India dan Nusantara. Kejayaan mereka bersinar, bersaing ketat dengan negara-negara Eropa Barat lainnya yang berambisi menemukan dunia baru setelah jatuhnya Konstantinopel dan terganggunya akses dagang Eropa ke Timur.
Namun, Portugis hanya menikmati kejayaan itu selama kurang dari setengah abad. Pada tahun 1578 M, kekalahan telak di Afrika Utara menghancurkan supremasi mereka, dan sejak itu mereka tak pernah kembali berjaya. Perang Wadil Makhazin, juga dikenal sebagai Perang Tiga Raja atau Battle of the Three Kings, menjadi momen pahit yang menutup ambisi Portugis menjajah Maroko. Menariknya, Ensiklopedia Wikipedia tentang Imperium Portugis tidak menyebutkan peristiwa ini, menunjukkan betapa mendalamnya luka sejarah tersebut bagi mereka.
Situasi Laut Tengah dan Panggung Politik Global
Pada tahun yang sama, Kekhalifahan Turki Utsmani tengah berada di puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Sulaiman Qanuni. Kekuasaan Utsmani membentang dari wilayah Turki modern hingga perbatasan Hungaria, Timur Tengah, Mesir, dan Afrika Utara, kecuali Maroko. Kawasan Laut Tengah dikuasai sepenuhnya oleh kekuatan Utsmani. Hubungan diplomatik mereka dengan Perancis turut memecah Eropa, walau bangsa-bangsa Eropa tetap bersatu dalam semangat penjajahan dan penaklukan dunia baru.
Bangsa-bangsa seperti Portugis, Spanyol, Inggris, dan Perancis mengarungi samudra demi ekspansi kolonial. Penemuan benua Amerika oleh Colombus tahun 1492 dan pembantaian bangsa Inca-Maya oleh Cortez menyulut ambisi penjajahan. Portugis pun terpacu untuk menguasai wilayah baru, termasuk Afrika Utara.
Intrik Kekuasaan di Maroko dan Ambisi Portugis
Di Maroko, konflik kekuasaan memanas antara Sultan Abu Abdullah Muhammad al-Mutawakkil as-Sa’di dan pamannya, Abdul Malik. Setelah kalah, as-Sa’di meminta bantuan Raja Portugis Sebastian, dengan harapan bisa merebut kembali tahtanya. Sebastian, yang sangat dipengaruhi semangat Katolik, ekspansi imperium, dan cita-cita Perang Salib, menyambut permintaan itu dengan antusias. Ia pun menggalang pasukan: sukarelawan Spanyol, tentara bayaran Jerman dan Italia, serta tokoh Inggris Thomas Stukley. Sebanyak 500 kapal mengangkut sekitar 23.000 pasukan menuju Maroko. Sumber Muslim menyebut angka ini lebih dari 125.000, meski sejarawan Barat cenderung mengecilkan jumlahnya.
Di sisi lain, Abdul Malik mendapatkan dukungan dari Kesultanan Utsmani, termasuk pasukan elite Janisari. Jumlah pasukan Muslim mencapai sekitar 40.000 orang, gabungan dari pasukan Abdul Malik dan bantuan dari Turki Utsmani.
Seruan Jihad dan Perang Propaganda
Pasukan Portugis mendarat di Arzila, Maroko pada 24 Juni 1578. Menanggapi ancaman ini, ulama dan pemimpin Muslim menyerukan jihad ke Wadil Makhazin. Rakyat dari berbagai wilayah Maroko pun berdatangan bergabung dengan pasukan Abdul Malik.
Sementara itu, as-Sa’di mencoba memecah belah umat Islam melalui propaganda dan fatwa. Ia mengirim surat kepada rakyat Maroko, membela tindakannya yang meminta bantuan non-Muslim. Namun, para ulama membalas dengan tegas, menolak keras justifikasi as-Sa’di. Mereka menyatakan bahwa meminta bantuan kaum kafir untuk melawan sesama Muslim merupakan pelanggaran besar, dan bertentangan dengan prinsip jihad.
Bahkan Sultan Abdul Malik sendiri mengirim surat kepada Raja Sebastian, menantangnya untuk bertarung secara ksatria. Surat tersebut memancing kemarahan Sebastian, namun strategi Abdul Malik berhasil memaksa Sebastian menunda serangan, membuka peluang besar bagi pasukan Muslim untuk menyusun taktik.
Strategi Jitu dan Hari Penentuan
Pada 4 Agustus 1578, dua pasukan besar bertemu di Ksar al-Kabir (Istana Besar). Lokasinya lebih dari 100 km dari Tangier dan sekitar 20 km dari pantai. Abdul Malik dengan cerdik mengisolasi pasukan Portugis dari kapal-kapal mereka, memutus jalur bantuan dan pelarian dengan menghancurkan jembatan di belakang mereka.
Meskipun dalam keadaan sakit, Sultan Abdul Malik tetap memimpin pasukan dari barisan depan, hingga akhirnya beliau wafat di tenda setelah memberikan instruksi terakhir. Semangat jihad dan strategi perangnya tetap hidup dalam diri pasukan Muslim.
Pertempuran besar pun pecah. Takbir menggema dari pasukan Muslim, menggetarkan langit Maroko. Pasukan Abdul Malik, dibantu Janisari Utsmani, menyerang habis-habisan. Sayap-sayap pertahanan Portugis runtuh. Pasukan Kristen mencoba mundur, namun jembatan Sungai Wadil Makhazin telah dihancurkan. Banyak dari mereka tercebur dan tenggelam, termasuk Sebastian dan as-Sa’di. Tubuh Sebastian tak pernah ditemukan. Selama 4 jam lebih, pasukan Muslim menggulung kekuatan besar Eropa dengan pertolongan Allah.
Dampak Kemenangan dan Akhir Kejayaan Portugis
Setelah kemenangan itu, Ahmad al-Manshur naik takhta di Maroko, dan kabar kemenangan menyebar ke seluruh dunia Islam. Eropa pun mengakui kekuatan baru Maroko; mereka mengirim hadiah dan menjalin hubungan diplomatik.
Sebaliknya, Portugis mulai tenggelam dalam masa kegelapan. Kekuasaan mereka di berbagai belahan dunia hancur. Kerajaan mereka dikuasai Spanyol selama berabad-abad. Hingga abad ke-20, hanya Timor Leste yang tersisa sebagai warisan kolonial mereka.
Allah menunjukkan pertolongan-Nya di Perang Istana Besar, sekaligus mempermalukan pasukan salib yang ingin menjajah negeri Muslim. Dengan strategi jitu dan keberanian pasukan Muslim, kemenangan besar itu menjadi pelajaran berharga bagi perjuangan umat Islam di masa kini dan mendatang.
Sumber : Hidayatullah.com
“💼 Umrah Sepanjang Tahun bersama Natola Travel
✈️ Pelayanan terbaik dari kami
📲 Daftar sekarang — karena Baitullah tak akan menunggu.”

