Sekat Sosial yang Masih Terasa
Meski hubungan antara masyarakat Tionghoa dan Muslim Indonesia telah berlangsung lama, jarak sosial dan emosional di antara keduanya masih nyata. Banyak warga Tionghoa yang telah hidup turun-temurun di Indonesia, berbicara dalam bahasa dan dialek lokal, namun tetap mengalami isolasi budaya dan agama. Hal ini menciptakan kesan keterasingan yang sewaktu-waktu dapat memicu ketegangan sosial.
Prasangka yang Perlu Diluruskan
Sebagian umat Islam mungkin menganggap komunitas Tionghoa sebagai kelompok yang sulit menerima Islam. Padahal, fakta sejarah menunjukkan sebaliknya. Islam memiliki akar panjang di Tiongkok. Menurut data Pew Research Center terbaru, jumlah Muslim di Tiongkok mencapai sekitar 17 hingga 18 juta orang, atau sekitar 1,6–2 persen dari total populasi. Ini lebih banyak dibandingkan populasi Muslim di beberapa negara Timur Tengah.
Hubungan Awal Islam dan Tiongkok
Interaksi antara dunia Islam dan Tiongkok dimulai jauh sebelum masa kekhalifahan resmi. Jalur perdagangan laut dan darat (jalur sutra) menjadi sarana utama penyebaran. Pedagang Arab dan Persia diketahui telah menetap di kota-kota pelabuhan seperti Kanton dan Chang Chow. Kontak diplomatik resmi dimulai pada masa Khalifah Utsman bin Affan yang mengirim utusan ke Dinasti Tang. Sejarah mencatat ada 37 kali perutusan antara kekhalifahan dan istana Dinasti Tang.
Salah satu titik penting adalah ketika pasukan Muslim membantu kaisar Dinasti Tang merebut kembali tahtanya dari pemberontak pada tahun 755 M. Sebagai balas jasa, mereka diizinkan tinggal dan menikah dengan perempuan lokal.
Masa Keemasan Islam di Tiongkok
Pengaruh Islam semakin menguat pada masa Dinasti Yuan (1279–1368 M). Banyak Muslim Arab dan Persia menduduki posisi strategis, seperti gubernur Yunnan, Sayyid Shamsuddin. Kaum Muslimin dikenal dengan berbagai sebutan, termasuk “Hui-Hui” dan “Da’shman” (orang terpelajar).
Puncaknya terjadi pada masa Dinasti Ming (1368–1644 M). Ada catatan bahwa istri kaisar pertama, Ratu Ma, adalah seorang Muslimah. Empat dari enam panglima pendiri Dinasti Ming juga diketahui beragama Islam. Laksamana Cheng Ho, salah satu tokoh Muslim paling berpengaruh di era itu, memimpin misi diplomatik ke Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Masa Kemunduran dan Penindasan
Setelah Dinasti Ming tumbang dan digantikan oleh Dinasti Qing (1644–1911 M), umat Islam mengalami kemunduran. Pemerintah Manchu bersikap represif dan menindas pemberontakan Muslim dengan kekejaman, menyebabkan lebih dari dua juta Muslim tewas. Ketika Komunis berkuasa tahun 1950, tekanan terhadap Muslim meningkat.
Pada masa Revolusi Kebudayaan (1966–1976), ribuan masjid dan imam dihapuskan. Di Qinghai, dari sebelumnya 931 masjid, hanya tersisa delapan setelah tahun 1958. Pelaksanaan ibadah seperti shalat dan haji dilarang, membuat generasi muda Muslim mengalami keterputusan dengan akar keislamannya.
Masa Pembukaan dan Tantangan Baru
Baru pada masa Deng Xiaoping, kondisi mulai membaik. Undang-undang mulai melindungi kebebasan beragama, dan umat Islam kembali menjalankan ajaran agamanya. Meski begitu, ketegangan tetap ada, terutama di wilayah seperti Xinjiang.
Namun, eksistensi Islam di Tiongkok tetap bertahan. Islam bukan hanya hadir, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah bangsa Tiongkok. Ini kontras dengan komunitas Nestorian dan Yahudi yang dulunya eksis di Tiongkok, namun kini telah lenyap.
Tanggung Jawab Bersama Umat Islam
Islam tetap hidup di Tiongkok karena kekuatan internalnya. Isaac Mason, misionaris awal abad ke-20, terinspirasi oleh keteguhan Muslim Tiongkok dan menyebut kepribadian Nabi Muhammad ™ sebagai faktor utama bertahannya Islam di negeri itu.
Tanggung jawab atas perkembangan Islam di Tiongkok tidak hanya di pundak Muslim Tiongkok. Kaum Muslimin di negara lain, termasuk Indonesia, juga perlu terlibat. Interaksi yang terbuka dan penuh empati dengan warga Tionghoa sangat dibutuhkan.
Daripada menjaga jarak, umat Islam Indonesia bisa belajar dari karakter masyarakat Tionghoa, seperti kedisiplinan, etos kerja, dan solidaritas. Dan walau tidak mudah, memperkenalkan Islam secara santun dan bijak bisa membuka hati siapa saja.
Jika masyarakat Barat yang pernah berseteru dengan Islam saja kini banyak yang memeluknya, mengapa masyarakat Tionghoa tidak? Semua ini tentu membutuhkan keteladanan dari umat Islam sendiri: menjadi pribadi yang mencerminkan nilai Islam sejati. Wallahu a’lam.
“Sejarah membuktikan, Islam bisa bertahan bahkan di tanah yang keras sekalipun seperti Tiongkok. Tapi bagaimana dengan kita? Sudahkah kita perjuangkan iman kita hari ini?”
🕋 Ayo, jadikan umrah sebagai momen memperkuat iman dan memperluas pandangan kita tentang Islam yang universal.
🌿 Jangan hanya membaca sejarah… saatnya melangkah.
🕋 Rasakan sendiri ketenangan di Tanah Suci, bersama Natola Travel.
✈️ Umrah bukan sekadar perjalanan, tapi perjalanan pulang menuju hati yang tenang.📆 Daftar sekarang untuk keberangkatan terdekat!
📲 Hubungi kami melalui WhatsApp dan jadikan umrah ini awal dari hidup yang lebih bermakna.
Sumber : Hidayatullah.com, Wikipedia.com, Pew Research

