Belajar dari Sikap Kritis Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim AS memberikan teladan luar biasa dalam proses mengenal Allah SWT. Ia menggunakan akalnya secara mendalam dan tidak mengikuti keyakinan lingkungan begitu saja. Ia menolak penyembahan berhala, memisahkan antara yang haq dan batil, lalu memilih kebenaran dengan penuh keyakinan.
Selain itu, kisah Ibrahim dalam QS. Al-An’am 74–79 menunjukkan bagaimana ia menimbang bintang, bulan, dan matahari sebagai “tuhan” namun kemudian menolak semuanya karena mengalami terbenam dan berubah. Karena itu, Ibrahim menyimpulkan bahwa Tuhan yang sejati tidak mungkin bergantung pada perubahan.
Kewajiban Utama: Mengenal Allah dengan Jalan yang Benar
Setiap manusia memiliki kewajiban untuk mengenal Tuhannya secara benar. Untuk mencapainya, manusia perlu menempuh jalan yang lurus, bukan jalan yang menumbuhkan dugaan, keraguan, atau hawa nafsu.
Oleh karena itu, mengenal Allah membutuhkan ilmu yang berdasar, panduan wahyu, dan pengamatan terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Tiga Jalan Penting untuk Mengenal Allah SWT
1. Memahami Nama dan Sifat Allah Melalui Wahyu
Al-Qur’an memberikan informasi paling jelas tentang nama dan sifat Allah. Nama-nama-Nya yang mulia—Asmaul Husna—memberikan gambaran lengkap tentang keagungan dan kesempurnaan-Nya.
QS. Al-Hasyr ayat 22–24 menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, dan memiliki nama-nama yang indah. Setelah itu, manusia dapat memperkuat imannya dengan memahami makna setiap nama dan mengamalkannya.
Selain itu, hadits shahih menyebutkan bahwa siapa yang memahami dan menghafal Asmaul Husna akan memperoleh keutamaan besar, karena ia mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya secara benar.
2. Menggunakan Akal untuk Merenungi Alam Semesta
Akal menjadi alat penting dalam mengenali kebesaran Allah. Manusia bisa merenungi penciptaan alam, keteraturan langit dan bumi, serta pergiliran malam dan siang.
Melalui perenungan itu, manusia dapat menarik kesimpulan bahwa alam tidak mungkin bergerak rapi tanpa adanya Zat yang mengatur. Bahkan, analogi sederhana seperti kapal di tengah lautan menunjukkan bahwa sesuatu yang besar dan teratur pasti memiliki pengatur.
Kemudian QS. Ali Imran ayat 190 menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang mampu menangkap tanda-tanda kebesaran Allah dari fenomena alam tersebut.
3. Mengenal Diri Sendiri untuk Menyadari Kebesaran Allah
Manusia bisa mengenal Allah dengan memahami dirinya. Ketika seseorang menyadari keterbatasannya, ia akan mengakui bahwa dirinya bergantung pada kekuatan lain di luar dirinya.
Atsar ulama menyebutkan, “Siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.” Kalimat ini mengajak manusia menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketidakberdayaannya. Setelah itu, ia akan memahami bahwa hanya Allah yang mampu mengatur, menjaga, dan menguatkan dirinya.
Di sisi lain, pengenalan diri membuat seseorang lebih rendah hati dan lebih dekat kepada Allah.
Menguatkan Akidah di Tengah Tantangan Zaman
Mengenal Allah melalui wahyu, akal, dan pengenalan diri akan membangun keyakinan yang kokoh. Keyakinan itu mampu menjaga seseorang dari keraguan, godaan pemikiran menyimpang, ataupun keyakinan yang tidak berdasar.
Oleh karena itu, setiap Muslim perlu terus memperdalam ilmu, merenungi ayat-ayat Allah, dan memahami dirinya agar semakin dekat dengan Tuhannya. Dengan begitu, akidah tetap teguh meskipun zaman terus berubah.
Sumber : hidayatullah.com

