Belakangan ini kita sering menyaksikan berbagai peristiwa anarkis yang melibatkan aparat keamanan dalam menangani aksi demonstrasi rakyat. Seharusnya aparat hadir untuk melindungi, namun yang terjadi justru rakyat menjadi korban kekerasan. Ada yang terluka, ada yang kehilangan harta benda, bahkan ada yang kehilangan nyawa.
Tindakan represif seperti ini, sama halnya dengan premanisme, merupakan ancaman nyata bagi ketentraman masyarakat, merusak stabilitas negara, serta bertentangan dengan ajaran agama apa pun.
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga keamanan dan kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah ﷺ melarang setiap perbuatan yang menakut-nakuti sesama Muslim, bahkan bercanda yang membuat orang lain takut pun diharamkan. Lalu bagaimana dengan kekerasan aparat yang mengacungkan senjata, memukul, menembakkan gas air mata, dan melukai rakyat yang seharusnya mereka lindungi? Itu jelas perbuatan zalim yang besar dosanya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 33 tentang hukuman berat bagi orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.
اِنَّمَا جَزٰۤؤُا الَّذِيْنَ يُحَارِبُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَسْعَوْنَ فِى الْاَرْضِ فَسَادًا اَنْ يُّقَتَّلُوْٓا اَوْ يُصَلَّبُوْٓا اَوْ تُقَطَّعَ اَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ مِّنْ خِلَافٍ اَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْاَرْضِۗ ذٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِى الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ٣
Balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya serta membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu merupakan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat (kelak) mereka mendapat azab yang sangat berat.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan:
“Siapa yang mengangkat senjata kepada kami, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari-Muslim).
Ma’asyiral Muslimin,
Ketika aparat menindas rakyat dengan dalih menjaga ketertiban, sesungguhnya mereka telah menyalahi amanah yang diberikan negara. Kekerasan yang merampas hak masyarakat untuk bersuara, memukul, menembak, bahkan membunuh, adalah kejahatan besar di mata agama maupun hukum negara.
Kita sebagai umat Islam tidak boleh tinggal diam. Diam terhadap kezhaliman berarti kita ikut serta dalam kejahatan itu sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah seseorang dari kalian hanya berdiri di tempat ketika seseorang dibunuh secara zalim, sebab kutukan akan turun kepada orang-orang yang hadir tetapi tidak berusaha mencegahnya.” (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Maka dari itu, kita wajib bersuara menolak tindakan anarkis aparat, membantu mereka yang menjadi korban, serta terus mendorong agar keadilan ditegakkan. Jika rakyat terus diam, maka kekerasan akan menjadi budaya, dan doa-doa kita berpotensi tidak diijabah oleh Allah karena kita enggan melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Akhirnya, mari kita satukan langkah untuk menolak segala bentuk kezhaliman, termasuk kekerasan aparat terhadap rakyat. Sebab menjaga keamanan, melindungi yang lemah, dan mencegah kerusakan sosial adalah ajaran luhur Islam.
Salah satu tragedi yang menyayat hati adalah meninggalnya seorang pengemudi ojek online pada 28 Agustus 2025 saat kericuhan terjadi.
Atas kejadian ini, Natola Travel menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya, mengampuni dosanya, serta memberikan ketabahan dan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kami juga berharap, semoga pemerintah dan aparat keamanan dapat lebih bijak dalam mengambil kebijakan serta langkah-langkah penanganan di lapangan, agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan rakyat merasa aman dalam menyuarakan aspirasinya.🥀

