Oase Jum’at: Sedekah Bisa Jadi Dosa? Waspadai Asal Usul Hartamu!

Tak mengherankan jika generasi awal umat Islam serta para ulama begitu serius menjaga diri dari mengonsumsi makanan yang haram ataupun menggunakan harta yang tidak halal. Hal ini karena sesuatu yang diharamkan, bila masuk ke dalam tubuh, dapat membawa dampak negatif yang sangat besar bagi pelakunya—baik secara spiritual maupun sosial.

Berikut beberapa akibat buruk dari mengonsumsi atau menggunakan barang haram, yang memengaruhi keimanan, amal, hingga nasib akhir seseorang. Semoga kita dijauhkan dari keburukan-keburukan ini.

1. Amalan Tak Diterima

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Ketahuilah, jika satu suapan makanan haram masuk ke dalam perut seseorang di antara kalian, maka amalannya tidak akan diterima selama 40 hari.”
(HR. At-Thabrani)

2. Ibadah Haji Tertolak Jika dari Harta Haram

Beliau ﷺ juga bersabda,
“Apabila seseorang berangkat haji dengan bekal yang haram, lalu menaiki kendaraannya dan mengucapkan ‘Labbaik Allahumma labbaik’, maka dari langit terdengar seruan, ‘Tidak ada labbaik dan tidak ada kebahagiaan untukmu! Bekalmu haram, kendaraanmu haram, dan hajimu mendatangkan dosa serta tidak diterima.'”
(HR. At-Thabrani)

3. Sedekah dari Harta Haram Tak Bernilai

“Siapa yang mengumpulkan harta dari jalan yang haram, lalu menyedekahkannya, maka ia tidak mendapat pahala. Justru dosanya tetap tertanggung atasnya.”
(HR. Ibnu Huzaimah)

4. Doa Tidak Terkabul

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash meminta agar Rasulullah ﷺ mendoakan agar doanya terkabul, beliau menjawab,
“Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, maka doamu akan dikabulkan.”
(HR. At-Thabrani)

Rasulullah ﷺ juga menggambarkan seseorang yang berdoa dalam kondisi penuh kesungguhan—rambut kusut, wajah berdebu, tangan terangkat ke langit sambil menyeru, “Ya Rabb! Ya Rabb!”—namun karena makanannya haram, maka doanya pun tertolak.
(HR. Muslim)

5. Mengikis Keimanan

“Tidaklah seorang peminum khamr saat ia meminumnya termasuk orang beriman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan meminum yang haram seperti khamr dapat menggerus keimanan pelakunya saat itu juga.

6. Menjerumuskan ke Neraka

“Tidaklah tumbuh daging dari makanan yang haram, kecuali neraka lebih pantas baginya.”
(HR. At-Tirmidzi)

7. Mengeraskan Hati

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang bagaimana cara agar hati menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran, beliau menjawab,
“Dengan memakan makanan yang halal.”
(Thabaqat al-Hanabilah, 1/219)

Seorang ahli tafsir, Sahl At-Tustari, juga menyampaikan bahwa siapa pun yang ingin mencapai derajat orang-orang jujur (shiddiqin), maka hendaknya ia hanya memakan yang halal dan konsisten mengamalkan Sunnah.
(Ar-Risalah al-Mustarsyidin, hal. 216)

Kesimpulannya, berdasarkan berbagai dalil di atas, mengonsumsi makanan haram tidak hanya membawa pelakunya pada perbuatan maksiat, tetapi juga berpotensi merusak keimanan, menjauhkan dari rahmat Allah, dan membuat hati semakin keras. Dalam kondisi seperti itu, seseorang akan kesulitan menerima kebenaran.

Semoga Allah menjaga kita dan keluarga dari segala yang haram, lahir maupun batin.
Wallahu a‘lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *