Memahami Perbedaan Dunia dan Bumi: Refleksi Iman tentang Tujuan Hidup Manusia
SERING kali istilah “dunia” dan “bumi” digunakan secara bergantian, seolah bermakna sama. Padahal dalam perspektif Islam, keduanya memiliki perbedaan mendasar yang bukan sekadar bahasa, melainkan menyentuh cara pandang hidup, orientasi iman, dan tujuan akhir manusia.
Memahami perbedaan antara bumi dan dunia menjadi penting, agar manusia tidak keliru menempatkan hati di tengah perjalanan hidupnya.
Bumi: Tempat Manusia Berpijak dan Beramal
Bumi adalah ciptaan Allah yang nyata dan bersifat fisik. Di atasnyalah manusia berjalan, bekerja, bercocok tanam, dan menjalani kehidupan. Dalam Al-Qur’an, bumi disebut dengan istilah al-ardh (الأرض), sebagai hamparan yang Allah siapkan untuk kehidupan manusia.
Allah SWT berfirman:
“Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu…”
(QS. Al-Baqarah: 22)
Bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ladang amal. Segala perbuatan manusia tercatat, bahkan kelak bumi akan berbicara dan menjadi saksi atas apa yang pernah dilakukan di atasnya.
“Pada hari itu bumi akan menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan yang demikian itu kepadanya.”
(QS. Az-Zalzalah: 4–5)
Dunia: Fase Kehidupan yang Sementara dan Menguji
Berbeda dengan bumi, dunia bersifat abstrak. Dalam bahasa Arab disebut ad-dunyā (الدنيا), yang bermakna rendah, dekat, dan sementara. Dunia bukan hanya tanah dan bangunan, tetapi seluruh sistem kehidupan yang fana dan penuh ujian.
Allah SWT menegaskan:
“Kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Sedangkan negeri akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-An‘ām: 32)
Dunia dapat menjadi sarana menuju akhirat, namun juga berpotensi melalaikan jika dijadikan tujuan utama.
Dunia Lebih Berbahaya daripada Bumi
Bumi tidak pernah menyesatkan manusia. Ia tunduk kepada perintah Allah dan menjalankan fungsinya dengan jujur. Namun dunia kerap menipu hati manusia melalui gemerlap harta, jabatan, dan popularitas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.”
(HR. Al-Baihaqi)
Banyak manusia terjatuh bukan karena bumi yang mereka pijak, melainkan karena dunia yang mereka cintai secara berlebihan.
Dunia Menipu, Bumi Bersaksi
Bumi bersifat jujur: siapa yang menanam kebaikan, akan menuai hasilnya. Sebaliknya, dunia sering tampil sebagai fatamorgana—indah di mata, kosong di hakikat.
Allah SWT berfirman:
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Āli ‘Imrān: 185)
Ketika dunia menguasai hati, manusia mudah lupa arah dan tujuan hidupnya.
Renungan Akhir: Menjadi Musafir Dunia, Bukan Penghuninya
Bumi adalah tempat berpijak.
Dunia adalah cara memandang kehidupan.
Bumi akan hancur.
Dunia akan sirna.
Namun amal saleh akan kekal di sisi Allah.
Manusia sejatinya hanya melewati tiga fase:
-
Fase rahim (sebelum dunia),
-
Fase dunia (ujian),
-
Fase akhirat (keabadian).
Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata:
“Dunia adalah tempat persinggahan, bukan tempat menetap. Manusia di dalamnya ada dua golongan: yang menjual dirinya hingga binasa, dan yang membeli dirinya hingga merdeka.”
Maka jangan sampai seseorang hidup di atas bumi, tetapi hatinya tenggelam dalam dunia. Jadilah musafir yang cerdas: menggunakan bumi untuk beramal dan memanfaatkan dunia sebagai bekal menuju akhirat.
Sumber : Hidayatullah.com

