Hidup dan Kegagalan
Hidup manusia bisa diibaratkan sebuah lilin. Api pada lilin adalah semangat yang memberi cahaya, tetapi seiring waktu lilin akan menyusut. Tetesan lilin yang jatuh ke bawah dapat dianalogikan sebagai kegagalan, sementara cahaya yang dihasilkan adalah cita-cita yang ingin diraih setinggi-tingginya. Begitulah kehidupan manusia: membutuhkan waktu, semangat, dan kesiapan menghadapi kegagalan demi menggapai harapan. Tidak ada kesuksesan yang hadir secara instan.
Untuk meraih cita-cita, tujuan, atau harapan, manusia selalu berusaha (ikhtiar). Mereka menyusun program, target, serta langkah-langkah yang dianggap tepat. Namun kenyataan sering kali tidak sesuai dengan rencana. Hasil yang dicapai bisa jauh dari harapan, meskipun usaha sudah maksimal. Di situlah muncul sebuah kata yang pasti akrab dengan manusia: kegagalan.
Memaknai Kegagalan
Kegagalan membuktikan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita hanya diwajibkan berusaha, bukan menjamin hasil. Rencana bisa dibuat, tetapi Allah SWT memiliki garis takdir-Nya sendiri. Dari kegagalan, kita belajar bahwa manusia jauh dari kesempurnaan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Ketika usaha berakhir dengan kegagalan, perasaan resah, kecewa, bahkan putus asa bisa datang. Saat itulah kita memerlukan tempat bersandar, nasihat yang menenangkan, dan kekuatan untuk bangkit. Harapan baru harus terus dilahirkan, agar potensi dalam diri tetap terjaga. Rekonstruksi visi hidup menjadi penting, terutama bagi seorang Muslim, karena tujuan hidup tidak berhenti di dunia, melainkan berlanjut hingga akhirat.
Jika keyakinan tentang adanya kehidupan akhirat tertanam kuat, maka tidak ada alasan untuk putus asa. Waktu yang terus berjalan seakan memberi pesan: harapan masih ada selama kita masih bernafas. Berhenti berharap hanyalah menjerumuskan diri pada dosa dan sikap kufur (QS. Yusuf: 87).
Allah SWT bahkan telah berjanji:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan.” (QS. Al-Mu’min: 60).
Dan dalam QS. Al-Baqarah: 186 ditegaskan, Allah SWT akan mengabulkan doa siapa pun yang benar-benar berharap hanya kepada-Nya.
Cara Allah SWT Mengabulkan Harapan
Namun seringkali kita lupa, bagaimana sebenarnya Allah SWT mewujudkan harapan itu? Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadits riwayat Ahmad dan al-Hakim dari Abu Sa’id, ada tiga cara Allah SWT mengabulkan doa seorang hamba—selama ia tidak memutus silaturahmi dan tidak terjerumus dalam dosa besar.
-
Doa langsung dikabulkan.
Ada doa-doa yang Allah perkenankan dengan cepat, seperti doa orang tua, orang yang teraniaya, pemimpin yang adil, dan doa seorang Muslim kepada saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya tersebut. -
Doa ditunda, menjadi tabungan pahala di akhirat.
Apa yang tidak didapat di dunia, akan diganti dengan balasan yang sempurna di akhirat. Inilah pengadilan yang benar-benar adil, tanpa suap, tanpa keberpihakan. -
Doa diganti dengan terhindarnya keburukan.
Kadang kita meminta sesuatu, tetapi Allah mengganti dengan cara menyelamatkan dari musibah yang tidak kita ketahui. Karena Allah lebih tahu mana yang terbaik (QS. Al-Baqarah: 216).
Rencana Allah Lebih Sempurna
Sering kali manusia menganggap sesuatu itu baik, padahal buruk baginya. Begitu pula sebaliknya. Allah SWT berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini menegaskan bahwa rencana Allah selalu lebih baik daripada rencana manusia. Karenanya, tidak ada alasan untuk berhenti berharap.
Kadang kita mengeluh: “Saya tidak punya apa-apa lagi.” Padahal bumi masih bisa dipijak, langit masih memayungi, udara masih bisa dihirup, angin masih berhembus, tubuh masih hidup. Apakah pantas kita mendustakan nikmat Allah yang begitu banyak? (QS. Ar-Rahman).
Segalanya Indah
Akhirnya, hidup ini akan selalu menghadirkan dua rasa: bahagia dan kecewa. Namun keduanya bisa menjerumuskan bila tidak disikapi dengan bijak. Maka seorang Muslim harus senantiasa menumbuhkan kebaikan dengan dzikir, sabar, dan shalat (QS. Al-Baqarah: 153).
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar, itu juga baik baginya.”
Dengan demikian, apa pun yang dialami seorang mukmin, selalu berujung pada kebaikan dan keindahan. Semoga kita semua mampu menjalaninya. InsyaAllah.
🌿 Dan salah satu cara terbaik untuk memperkuat harapan serta menyikapi kegagalan adalah dengan kembali mendekatkan diri kepada Allah. Mari songsong perjalanan suci ke Baitullah. Umrah bukan sekadar ibadah, tapi juga kesempatan menyusun ulang harapan, membersihkan hati, serta menguatkan doa di hadapan Ka’bah. Jangan tunda, karena waktu adalah amanah. Saatnya Anda melangkah menuju Tanah Suci.

