Si Penyusup yang Kita Izinkan: Memahami Makna Waliijah

NATOLA – Pernah mendengar kata “Waliijah”? Apa sebenarnya makna di balik istilah ini?

Secara bahasa, “waliijah” berarti masuknya sesuatu ke dalam sesuatu yang lain, tetapi dengan catatan: benda atau unsur yang masuk itu bukan bagian dari yang dimasuki. Dalam istilah Arab klasik, ungkapan ini dijelaskan sebagai:

إِدْخَالُ شَيْءٍ إِلَى غَيْرِهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ
“Memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu yang bukan bagian darinya.”

Dengan kata lain, istilah ini menggambarkan situasi ketika sesuatu dari luar menyelinap masuk ke dalam, walau sebenarnya ia bukan milik atau bagian dari unsur di dalamnya.

Gambaran dari Bahasa Arab

Bahasa Arab menyimpan banyak kata yang menggambarkan situasi ini secara imajinatif. Contohnya:

  • Kandang kijang yang disusupi serigala atau binatang buas disebut taulaj (تولج) atau daulaj (دولج).

  • Seorang ayah yang memasukkan hartanya ke dalam kepemilikan anaknya saat masih hidup disebut melakukan taulij (توليج). Hal ini membuat orang lain enggan meminta atau menuntut bagian dari harta itu.

  • Rasa sakit yang menetap dan menyelinap dalam tubuh disebut walijah (ولجة).

  • Gua tempat berteduh dari hujan juga dinamai walajah (ولجة).

  • Lembah tersembunyi yang tak terlihat disebut wilaj (ولاج).

  • Binatang buas seperti serigala dan ular yang sembunyi di siang hari dan aktif di malam hari disebut waalijah (والجة).

  • Orang asing yang bergabung dengan suatu kaum tanpa benar-benar menjadi bagian dari mereka disebut waliijah (وليجة).

Dalam konteks bahasa Indonesia, makna “waliijah” ini lebih dekat dengan kata “penyusup”—bukan sekadar masuk biasa, tapi masuk secara diam-diam dan tidak sah.

Waliijah dalam Al-Quran

Istilah ini dan kata-kata seakar dengannya muncul beberapa kali dalam Al-Quran. Salah satunya menggambarkan pergantian siang dan malam yang saling menyusup. Allah berfirman:

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam…” (QS Luqman: 29)

Perhatikan redaksi: Allah “memasukkan” siang ke dalam malam dan sebaliknya. Waktu tidak berubah jumlahnya (24 jam), namun ada bagian malam yang menyusup ke siang dan bagian siang yang masuk ke malam. Ini bentuk “penyusupan waktu” yang alami, teratur, dan indah.

Ayat-ayat lain yang memuat makna serupa bisa ditemukan di surah al-Hajj: 61, Fathir: 13, al-Hadid: 6, Ali Imran: 27, dan lainnya.

Makna Sosial dalam Konteks Surah At-Taubah

Satu-satunya kemunculan kata “waliijah” secara langsung ada di QS at-Taubah: 16:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui (siapa) di antara kamu yang benar-benar berjihad dan tidak menjadikan selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman sebagai waliijah?”

Ayat ini mengkritik orang-orang munafik yang menyusupkan orang kafir sebagai teman dekat. Mereka mengajak orang luar masuk ke komunitas Muslim, bahkan memberi perlindungan. Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini menegur keras kaum munafik yang hidup di Madinah tetapi tidak setia kepada Allah, Rasul, dan kaum Muslimin.

Allah tak akan membiarkan kondisi seperti itu berlangsung. Allah ingin barisan kaum beriman tetap bersih dari infiltrasi dan pengkhianatan.

Siapa Itu Waliijah?

Secara sosial, waliijah adalah orang luar yang mendapat akses ke rahasia pribadi kita. Bukan istri, bukan keluarga, tapi ia tahu dapur rumah tangga kita. Ia bukan bagian dari kita, namun kita (entah sadar atau tidak) mempercayakannya informasi penting. Ibarat penyusup, ia bisa mengambil, mencuri, atau bahkan menghancurkan dari dalam.

Hati-hatilah pada siapa yang kamu beri akses masuk ke dalam kehidupanmu.

Wallahu a’lam.

Sumber: Hidayatullah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *