Intelijen Modern: Antara Kecanggihan dan Kekejaman
Pernah menonton film Enemy of the State? Film ini menyoroti kecanggihan lembaga intelijen NSA (National Security Agency) dan betapa dahsyatnya pengawasan yang bisa mereka lakukan. Will Smith berperan sebagai Clayton, seorang pengacara kulit hitam yang diburu habis-habisan hanya karena memiliki informasi penting terkait pembunuhan. Seluruh benda di tubuhnya—dari pulpen hingga kancing—dijadikan alat pelacak. Bahkan, aparat NSA tak segan membunuh siapa pun yang dianggap menghalangi.
Ilmu intelijen sebenarnya bukan hal baru. Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah menggunakannya untuk bertahan hidup dan memenangkan peperangan. Salah satu fungsi utamanya adalah memperkirakan situasi masa depan, mengurangi risiko bagi pasukan, dan membantu pengambilan keputusan di medan tempur. Dalam Perang Dunia II, teknik pelacakan sinyal radio RDF digunakan untuk memburu kapal selam Jerman (u-boat). Perkembangan teknologi menjadikan informasi sebagai aset paling berharga dalam perang.
Masuk era 1990-an, konsep intelijen semakin kompleks, mencakup Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, dan Intelijen (K4I), lalu berkembang menjadi K4I/MP dengan tambahan Manajemen Pertempuran. Di zaman modern, siapa yang menguasai informasi, dialah penguasa dunia. Inilah yang membuat negara-negara adidaya berlomba menguasai teknologi informasi dan media global.
Namun, di balik kemajuan teknologi, praktik intelijen modern seringkali mencederai moral dan kemanusiaan.
Intelijen Tanpa Akhlak
Istilah “intelijen” berasal dari intelligence yang berarti kecerdasan. Sayangnya, dalam praktiknya, banyak lembaga intel justru mencerminkan sebaliknya. Alih-alih menjalankan tugas mulia, mereka sering dijadikan alat politik untuk melanggengkan kekuasaan.
Rekayasa, penggalangan, pembusukan, hingga pembinasaan menjadi metode yang biasa digunakan, termasuk oleh lembaga intelijen Indonesia di masa lalu. Beberapa gerakan Islam seperti Masyumi dan Jamaah Imran pernah menjadi korban rekayasa melalui infiltrasi dan provokasi oleh agen negara. Tujuannya bukan menjaga keamanan negara, tetapi membungkam kelompok yang dianggap “berseberangan” secara politik.
Di banyak rezim represif seperti Nazi, Stalinisme, atau kediktatoran militer, intelijen menjadi alat teror. Tangkap, siksa, bahkan bunuh, dilakukan demi mempertahankan kekuasaan. Ironisnya, aparat seperti ini dibayar dari pajak rakyat, tetapi justru memata-matai rakyatnya sendiri.
Intelijen ala Rasulullah: Strategis dan Beretika
Berbeda dengan model kekerasan intelijen modern, Nabi Muhammad ﷺ telah menerapkan konsep intelijen sejak 1.400 tahun lalu—penuh strategi namun tetap berlandaskan akhlak.
Contohnya, saat mengutus Abdullah bin Jahsy dalam misi rahasia, Nabi menekankan pentingnya kesukarelaan dan kejujuran. Dalam peristiwa pembebasan Mekah, Rasulullah merahasiakan jumlah pasukan dan menyebarkan informasi palsu kepada musuh untuk mengecoh mereka—tanpa mengorbankan rakyat sipil atau berbuat licik.
Dalam misi lainnya, Rasulullah mengutus Abdullah bin Unais untuk menyelidiki rencana penyerangan oleh Khalid bin Sufyan. Tugas dijalankan secara cermat, penuh penyamaran, dan tak menimbulkan korban yang tak bersalah.
Strategi Rasulullah juga mencakup propaganda dan psywar, seperti saat menyalakan ribuan obor untuk menakuti musuh, sehingga mereka menyerah tanpa perlawanan. Namun, semua itu dilakukan tanpa melibatkan fitnah, penculikan, atau rekayasa yang merusak masa depan orang lain.
Intelijen Islam: Berbasis Moral, Bukan Kepentingan
Staf intel Rasulullah adalah orang-orang yang amanah, jujur, dan taat pada ajaran Islam. Mereka tidak memata-matai rakyatnya sendiri, apalagi menjebak atau menyudutkan dengan dalih terorisme seperti yang sering terjadi saat ini.
Intelijen seharusnya berfungsi menjaga keamanan dan melindungi rakyat, bukan menjadi alat kekuasaan. Intelijen yang ideal adalah yang memahami akhlak, bertindak adil, dan tidak berbuat zalim, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Sumber : Hidayatullah.com

