Oase Jum’at: Ketika Ambisi Menyingkirkan Amanah dan Kejujuran, Rakyat Menjadi Korban

Tamak: Akar Kejatuhan Jiwa dan Kepemimpinan

Salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah sifat tamak—tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Tamak tak hanya soal harta atau jabatan, tetapi juga bisa muncul karena dorongan gengsi, malu, atau tidak rela jika orang lain terlihat lebih unggul. Ketika sifat ini merasuki jiwa, seseorang bisa menghalalkan segala cara, bahkan menabrak nilai etika dan aturan agama demi memuaskan ambisinya. Perkara haram pun dianggap wajar selama bisa menggapai obsesi.

Tamak Tidak Menguntungkan, Tapi Menghancurkan

Watak serakah bukanlah karakter yang membawa manfaat. Justru, ia membuka pintu menuju kerugian dan kesengsaraan, khususnya bagi pelakunya sendiri. Sejarah telah mencatat banyak penguasa dan raja yang tumbang secara tragis akibat kerakusan dan nafsu yang tak terkendali. Kekuasaan mereka berakhir bukan dengan kehormatan, melainkan kehinaan.

Nasihat Abu Bakar ash-Shiddiq: Simpati, Bukan Kebencian

Sahabat mulia Abu Bakar ash-Shiddiq RA pernah menyampaikan sebuah pandangan mendalam:
“Orang paling sengsara di dunia dan akhirat adalah para raja dan penguasa.”
Pernyataan itu mengejutkan para sahabat, hingga mereka bertanya, “Mengapa bisa begitu?”

Abu Bakar menjelaskan bahwa penguasa cenderung tidak pernah puas. Mereka hanya fokus pada apa yang belum mereka miliki, bukan pada apa yang telah ada di tangan mereka. Mereka terus berangan-angan, bahkan di ambang ajal. Empati pun mulai menipis, hasad dan dengki tumbuh, rasa percaya hilang, dan akhirnya jiwa mereka menjadi gersang. Penampilan mereka mungkin tampak bahagia, namun batinnya tersiksa. Ketika kematian datang, semua ambisi itu lenyap, dan hisab pun dimulai. Lalu Abu Bakar menutup dengan kata-kata bijak:
“Jangan benci raja-raja, tapi kasihanilah mereka.”

Pemimpin yang Lalai Akan Menjerumuskan Banyak Orang

Apa yang disampaikan Abu Bakar bukan sekadar keluhan, melainkan peringatan penuh cinta bagi para pemimpin. Jika seorang penguasa abai terhadap amanah, maka kerusakan dan penderitaan akan meluas. Akar dari kesengsaraan ini adalah kemerosotan moral, yang tercermin dari sifat-sifat buruk: tamak, dengki, sombong, mudah marah, penuh prasangka, suka berbohong, dan suka mengkhianati janji.

Pemimpin seperti ini bukan hanya gagal secara sosial, tetapi juga sedang menderita secara batin.

Enam Obat Jiwa Bagi Penguasa

Agar sang pemimpin bisa keluar dari penderitaan batin dan kembali menjalankan amanahnya, ia perlu membangun enam kekuatan jiwa berikut:

  1. Taubat
    Menyadari kesalahan, menyesalinya, memohon ampun, dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri. 
  2. Syaja’ah (Keberanian)
    Berani menegakkan kebenaran dan tidak takut untuk meninggalkan kebatilan. 
  3. ‘Iffah (Menjaga Harga Diri)
    Mampu menjaga kehormatan dan tidak menggadaikan integritas demi kepentingan sesaat. 
  4. Hikmah (Kebijaksanaan)
    Pandai memetik pelajaran dari pengalaman dan mengambil keputusan dengan cermat. 
  5. Al-‘Adalah (Keadilan)
    Bersikap adil, bahkan terhadap diri sendiri, tanpa pilih kasih dan tanpa kepentingan pribadi. 
  6. Amanah (Kejujuran dan Tanggung Jawab)
    Menepati janji, menjunjung tinggi kejujuran, dan pantang mengkhianati kepercayaan rakyat. 

Penutup: Kesejahteraan Rakyat Dimulai dari Jiwa Pemimpinnya

Jika enam kekuatan ini tumbuh dalam jiwa seorang pemimpin, maka kesengsaraan batin akan sirna. Hati rakyat pun ikut tenang, karena kepemimpinan yang jujur dan bijak membawa ketenteraman.
Wallāhu al-Musta’ān—Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Sumber: Hidayatullah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *